MAKALAH TEKNIK SEPARASI
Isolasi dan Identifikasi
Senyawa Flavonoid dalam Rimpang Temu Ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.)

Disusun oleh:
1. Isnaini Ervin
Suciati (1400017040)
2. Widya Febriani (1400017042)
3. Fajar Shadiq (1400017044)
4. Ridwan (1400017047)
5. Resti Yudiyanti (1400017048 )
6. Arvitenno
Eko Rian M. (1400017049)
7. Saidaturrizqa
Amalia (1400017050)
8. Ismawati (1400017053)
9. Dianawati (1400017056)
10. Awalia Nurhariotun Nisa (1400017059)
11. Attabi Marie Sahmi (1400017060)
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS AHMAD
DAHLAN
YOGYAKARTA
2016
DAFTAR
ISI
Cover ………………………………………………………………………………… i
Daftar Isi ……………………………………………………………………………. 2
Kata Pengantar ……………………………………………………………………… 3
BAB I Pendahuluan ……………………………………………………………….. 4
A. Latar Belakang
....………………………………………………….......………… 4
B. Rumusan
Masalah ….…………………………………….......………………….. 4
C. Tujuan ………………….……………………………….....……………………....5
BAB II Dasar Teori
…………………………………………………………………6
BAB III Metode …………………………………………………………….……..12
BAB IV Hasil dan
Pembahasan
…………………………………………………..14
BAB V Kesimpulan ……………………………………………………………......22
Daftar Pustaka …………………………………………………………………….23
Kata
Pengantar
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga Makalah teknik separasi Kromatografi Lapis
Tipis dengan Silika ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun sebagai tugas dari mata
kuliah Teknik Separasi
Penulis menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dan membangun
dalam demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan berguna bagi
penulis dan pembaca.
Wassalamu’alaikum
Wr.Wb
Yogyakarta,
15 November 2016
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dewasa
ini,obat-obatan tradisional mulai menjadi pilihan utama masyarakat modern,hal
ini disebabkan obat-obatan tradisional memiliki beberapa kelebihan bila
dibanding dengan obat-obatan dari senyawa kimia sintetik yang beredar di apotik-apotik
saat ini,seperti : efek samping yang sangat minim ,mudah diperolah dari
lingkungan sekitar dan dapat diracik sendiri tanpa menggunakan metode khusus.
Akan tetapi, obat-obatan tradisional
juga memiliki kekurangan, diantaranya
belum banyak diketahui kandungan senyawa yang bertanggung jawab terhadap
aktivitas biologinya,sehingga khasiat-khasiat dari obat-obatan tradisional yang
beredar di masyarakat baru berdasarkan pengalaman-pengalaman dan belum dapat di
pertanggung jawabkan secara ilmiah
Banyak bahan alam di Indonesia yang
dapat digunakan sebagai obat tradisional,dan memiliki aktivitas biologis yang
bermanfaat bagi kesehatan,salah satunya adalah temu ireng (Curcuma
aeruginosa Roxb) yang termasuk kedalam famili Zingiberaceae.
Menurut Syamsu hidayatdan Hutapea (1991) temu ireng (Curcuma aeruginosa Roxb) mengandung beberapa golongan senyawa seperti:
saponin, flavonoid, dan polifenol dan minyak atsiri. Flavonoid dapat diperoleh
pada semua bagian tumbuhan hijau, seperti pada: akar, daun, kulit kayu, benang
sari, bunga, buah dan biji buah.
B.
Rumusan Masalah
1.
Kandungan senyawa apa
sajakah yang terdapat pada Temu Ireng (Curcuma aeruginosa Roxb) yang termasuk kedalam golongan flavonoid ?
2.
Pelarut manakah yang
dapat menjaring senyawa flavonoid paling banyak?
3.
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui senyawa-senyawa flavonoid yang terkandung dalam rimpang temu ireng (Curcuma
aeruginosa Roxb)
2. Untuk
mengetahui pelarut yang dapat menjaring senywa-senyawa flavonoid paling banyak.
BAB II
DASAR TEORI
DASAR TEORI
2.1 senyawa Flavonoid
Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa metabolit sekunder yang
paling banyak ditemukan di dalam jaringan tanaman (Rajalakshmi 1985). Flavonoid
termasuk dalam golongan senyawa phenolik dengan struktur kimia C6-C3-C6 (White dan Y. Xing, 1951).
Kerangka flavonoid terdiri atas satu cincin
aromatik A, satu cincin aromatik B, dan cincin tengah berupa heterosiklik yang
mengandung oksigen dan bentuk teroksidasi cincin ini dijadikan dasar pembagian
flavonoid ke dalam sub-sub kelompoknya. Sistem penomoran digunakan untuk membedakan posisi karbon di sekitar
molekulnya (Cook dan S. Samman, 1996).
Berbagai jenis senyawa, kandungan dan aktivitas
antioksidatif flavonoid sebagai salah satu kelompok antioksidan alami yang
terdapat pada sereal, sayur-sayuran dan buah, telah banyak dipublikasikan.
Flavonoid berperan sebagai antioksidan dengan cara mendonasikan atom
hidrogennya atau melalui kemampuannya mengkelat logam, berada dalam bentuk
glukosida (mengandung rantai samping glukosa) atau dalam bentuk bebas yang
disebut aglikon (Cuppett et al.,1954).

3.2.Ekstraksi
Ekstraksi adalah metode pemisahan suatu zat terlarut
dengan menggunakan zat pelarut. Pemilihna pelarut yang cocok merupakan faktor
penting untuk mendukng keberhasilan dalam proses ekstraksi cair-cair
(Martunus,2007)
Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik komponen kimia yang
terdapat dalam bahan alam yang baik dari tumbuhan, hewan, dan biota laut dengan
pelarut organik tertentu, proses ini berdasarkan pada kemampuan pelarut organik
untuk menembus dinding sel dan masuk dalam rongga sel yang mengandung zat
aktif. Zat aktif akan larut dalam pelarut organik dan karena adanya perbedaan
antara konsentrasi didalam dan konsentrasi diluar sel mengakibatkan difusi
pelarut organik mengandung zat aktif keluar sel. Proses ini berlansung terus
menerus sampai terjadi keseimbangan konsentrasi zat aktif didalam dan luar sel
(Akhyar,2010)
3.3. Soxhletasi
Cairan penyari diisikan pada labu, serbuk simplisia
diisikan pada tabung dan kertas saring atau tabung yang berlubang-lubang dari gelas, baja
tahan karat, atau bahan lain yang cocok. Cairan penyari
dipanaskan hingga mendidih. Uap cairan
penyari naik ke atas melalui pipa samping, kemudian diembunkan kembali
oleh pendingin tegak. Cairan turun ke
labu melalui tabung yang berisi serbuk simplisia cairan penyari sambil turun melarutkan zat
aktif serbuk simplisia karena adanya 16 sifon maka setelah cairan mencapai
permukaan sifon, seluruh cairan akan kembali
ke labu.
a.
Keuntungan metode ini
adalah :
1.
Dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur
yang lunak dan tidak tahan terhadap pemanasan secara langsung.
2.
Digunakan pelarut yang
lebih sedikit
3.
Pemanasannya dapat
diatur
b.
Kerugian dari metode
ini :
1.
Karena pelarut didaur ulang, ekstrak yang
terkumpul pada wadah di sebelah bawah terus- menerus dipanaskan sehingga dapat
menyebabkan reaksi peruraian oleh panas.
2.
Jumlah
total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui kelarutannya dalam
pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam wadah dan membutuhkan volume
pelarut yang lebih banyak untuk melarutkannya.
3.
Bila dilakukan dalam
skala besar, mungkin tidak cocok untuk menggunakan pelarut dengan titik didih
yang terlalu tinggi, seperti metanol atau air, karena seluruh alat yang berada
di bawah kondensor perlu berada pada temperatur ini untuk pergerakan uap
pelarut yang efektif.
4.
Metode
ini terbatas pada ekstraksi dengan pelarut murni atau campuran azeotropik dan
tidak dapat digunakan untuk ekstraksi dengan campuran pelarut, misalnya heksan
: diklormetan = 1 : 1, atau pelarut yang diasamkan atau dibasakan, karena
uapnya akan mempunyai komposisi yang berbeda dalam pelarut cair di dalam wadah.
(Fessenden & Fessenden, 1991)
3.4. Kromatografi Kolom
Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan
kolom sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Alat
tersebut berupa pipa gelas yang dilengkapi suatu kran dibagian bawah kolom
untuk mengendalikan aliran zat cair. Ukuran kolom tergantung dari banyaknya zat
yang akan dipindahkan. Secara umum perbandingan panjang dan diameter kolom
sekitar 8:1, sedangkan jumlah penyerapnya adalah 25-30 kali berat bahan yang
akan dipisahkan. Meskipun tersedia berbagai macam kolom dari bahan gelas, namun
kadang-kadang buret juga dapat digunakan. Untuk
menahan penyerap di dalam
kolom dapat digunkan gelas wool atau kapas. Adsorbennya (penyerap) dapat
digunakan adsorben organik
seperti alumina, bauksit, magnesium silikat, silika gel, dan tanah
diatomae. Sedangkan adsorben organik
seperti arang gula, karbon aktif paling sering di gunakan. Teknik ini banyak
digunakan dalam pemisahan senyawa-senyawa organik dan
kostituen-konstituen yang sukar menguap. Sedangkan untuk pemisahan jenis
logam-logam atau senyawa anorganik jarang dipakai (Estien Yazid,2005)
Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan dalam kromatografi lapis tipis yang
juga mempengaruhi harga Rf:
1. Struktur kimia dari
senyawa yang dipisahkan
2. Sifat dari fase diam
3. Tebal dan kelarutan
dari fase diam
4. Pelarut fase gerak
5. Kejenuhan dari uap
dalam bejana pengimbangan
6. Jumlah cuplikan yang
digunakan
7. Suhu
(Sastrohamidjojo, 1991)
2.5. Temu Ireng
Temu ireng merupakan tumbuhan
semak, batang berwarna hijau dan agak lunak karena merupakan batang semu yang
tersusun atas kumpulan pelepah daun, panjang batang kurang lebih 50 cm, dan
tinggi tumbuhan dapat mencapai 2 meter. Temu ireng merupakan tumbuhan yang
dapat hidup secara liar di hutan-hutan jati, Temu Ireng (Curcuma aeruginosa
Roxb.) adalah sejenis tumbuhanan yang rimpangnya dimanfaatkan sebagai
campuran obat atau jamu. (Mandalina, S. 2011).
Temu ireng merupakan tanaman asli dari kawasan Asia
Tenggara.Berbatang semu dengan ketinggian mencapai 1,5 m. Tanaman ini mempunyai
rimpang berwarna gelap memiliki aroma khas. Daun tunggalnya berbentuk bulat
telur dengan helaian daun berwarna hijau,bertulang daun menyirip, dan permukaan
bagian atas terlihat garis-garis cokelat membujur. Pelepahnya melekat satu
dengan yang lain hingga membentuk batang. Sementara bunga majemuk berwarna ungu
merah dengan tangkai yang panjang mencapai 35 cm terutama di Pulau Jawa dari
ketinggian 400 - 1.750 meter di atas permukaan laut dan tumbuhan ini menyukai
tanah subur. Daunnya berbentuk lanset lebar denga helaian daun yang tipis,
warna daun hijau sampai coklat keunguan agak gelap.(Mursito, B. 2003).
Rimpang rasanya pahit, tajam, dingin. Rimpang berkhasiat untuk
membangkitkan nafsu makan, melancarkan keluarnya darah kotorsetelah melahirkan,
penyakit kulit seperti kudis, dan borok, perut mules(kolik) ,sariawan, batuk,
sesak nafas, dan cacingan, encok, kegemukanbadan. (Setiawan, 2005).
Rimpang temu ireng mengandung saponin, minyak atsiri,flavonoid,
kurkuminoid, zat pahit, damar, lemak, mineral, minyak dan saponin. Kandungan
minyak atsiri terbesar terdapat pada irisan temu ireng,dan kadar minyak atsiri maksimal
terdapat pada waktu rimpang belum bertunas dan mengeluarkan batang atau daun
yang tumbuh. (Widyawati, 2003).
BAB III
METODE PENELITIAN
METODE PENELITIAN
A.
Bahan
dan alat
Bahan penelitian
yang digunakan adalah rimpang temu
ireng yang berasal dari Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Sedangkan
pelarut yang digunakan adalah
petroleum eter p.a (E Merck), kloroform p. a (BDH), n-butanol, p.a.
(E Merck), dan metanol p.a (E
Merck). Untuk uji warna digunakan ammonium hidroksida (Baker analized
reagent), vanilin, HCl (E Merck),
AlCl3 (E Merck), FeCl3(E Merck), dan Shinoda test. Selain itu digunakan bahan
lain yaitu: plat
TLC SG 60 F254(E Merck), Silika Gel Kieselgel 60, 43-60 μm (230-400
mesh ASTM: E Merck). Alat
yang digunakan untuk penelitian ini berupa seperakat alat ekstraksi
Soxhlet, pemanas mantel, evaporator
Buchii, kolom kromatografi, lampu UV (Camac UV-cabinet II), bejana
pengembang, spektrofotometer
UV-Vis (UV, Milton Roy-Spectronic-300-Array), spektrofotometer infra merah (IR, Shimadzhu
FTIR-8201 PC) dan kromatografi
gas-spektrometer massa (GC-MS, Shimadzu
QP-5000).
B.
Metode Isolasi flavonoid
Dilakukan
pengumpulan bahan
yang sudah disiapkan kemudian
ditimbang seksama sebanyak ± 50 gram dan dicatat beratnya. Setelah itu ditempatkan
diatas tempat yang terbuat dari bambu yang datar (tampah atau nampan). Dilakukan sortasi basah terhadap tanah
dan kerikil, rumput-rumputan, bahan tanaman lain , bagian tanaman lain, atau bagian tanaman yang
rusak. Dilakukan
pencucian dengan air bersih, Dilakukan perajangan atau
pemotongan pada rimpang temu ireng
dan ditempatkan
dalam nampan. Dikeringkan dengan cara yang sesuai
berdasarkan jenis bagian tanaman dan kandungan zat aktifnya setelah itu ditimbang lagi dicatat beratnya
kemudian disortasi kering. Simplisia
yang sudah kering dilakukan proses pengepakan untuk dimasukkan dalam kertas
dan ditempat kering dan
diitutup rapat-rapat.
Rimpang temu ireng sebanyak 1 g dimasukkandalam
erlenmeyer dan ditambah etanol 25 mL, kemudian dipanaskan sampai mendidih dan
dilanjutkan dengan penyaringan. Filtrat yang diperoleh diuapkan, sampai volume
pelarut tinggal setengahnya. Adanya flavonoid diuji dengan Shinoda Tes. Tahap
selanjutnya adalah mengangin-anginkan rimpang temu ireng pada suhu kamar sampai
kering. Rimpang kering dihaluskan, kemudian dimasukkan ke dalam alat ekstraktor
Soxhlet. Ekstraksi dilakukan secara berturutan menggunakan pelarut petroleum
eter, kloroform, n-butanol dan metanol masing-masing selama 8 jam. Hasil ekstraksi
berupa ekstrak petroleum eter, kloroform, n-butanol dan metanol masing-masing
dilakukan uji warna untuk flavonoid. Ekstrak yang positif mengandung flavonoid
kernudian ditentukan eluen yang sesuai untuk langkah selanjutnya yaitu
kromatografi kolom. Penentuan eluen pada ekstrak petroleum eter (PE) dilakukan
dengan menggunakan eluen Pekloroform pada berbagai perbandingan volume. Untuk
ekstrak kloroform, eluen yang digunakan adalah kloroform-etil asetat pada
berbagai perbandingan volume. Sedangkan pada ekstrak nbutanol digunakan eluen
etil asetat-metanol pada berbagai perbandingan volume. Ekstrak metanol tidak
dicari eluen yang sesuai.
Persiapan pertama kromatografi kolom adalah
memanaskan silika gel pada suhu 1600C selama 3 jam kemudian didinginkan. Setelah
dingin, silika dibuat bubur dan dimasukkan dalam kolom, lalu dibiarkan semalam.
Ekstrak pekat emudian dilarutkan dalam eluen
yang sesuai untuk langkah selanjutnya yaitu kromatografi kolom. Penentuan eluen
pada ekstrak petroleum eter (PE) dilakukan dengan menggunakan eluen Pekloroform
pada berbagai perbandingan volume. Untuk ekstrak kloroform, eluen yang
digunakan adalah kloroform-etil asetat pada berbagai perbandingan volume.
Sedangkan pada ekstrak nbutanol digunakan eluen etil asetat-metanol pada berbagai
perbandingan volume. Ekstrak metanol tidak dicari eluen yang sesuai. Persiapan
pertama kromatografi kolom adalah memanaskan silika gel pada suhu 1600C selama
3 jam kemudian didinginkan. Setelah dingin, silika dibuat bubur dan dimasukkan
dalam kolom, lalu dibiarkan semalam.
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A.
Isolasi flavonoid
Persiapan awal ekstraksi adalah
menganginanginkan rimpang temu ireng yang bertujuan untuk mengurangi kadar air.
Penghancuran rimpang temu ireng berguna untuk memperbesar luas permukaan rimpang
temu ireng, sehingga interaksi pelarut dengan senyawa yang akan diambil dapat
lebih efektif. Hasil penjaringan flavonoid untuk masingmasing ekstrak yaitu
ekstrak petroleum eter (PE), kloroform, n-butanol dan metanol disajikan pada Tabel
1.

Dari hasil uji
wama terlihat bahwa ekstrak yang mengandung flavonoid adalah ekstrak PE,
kloroform, dan n-butanol. Ekstrak metanol tidak positif terhadap uji warna
untuk flavonoid, sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak metanol tidak
mengandung flavonoid. Pemisahan flavonoid dari campuran dilakukan dengan
menggunakan kramatografi kolom. Sebelum masuk ke kromatografi kolom perlu
dilakukan penentuan eluen yang sesuai, yaitu yang dapat memisahkan setiap
komponen dengan baik. Penentuan eluen ini dilakukan dengan TLC untuk ekstrak
PE, kloroform, dan n-butanol. Eluen yang memberikan hasil pemisahan terbaik,
ditentukan harga Rf-nya dan dianalisis dengan sinar UV-VIS pada = 254 nm dan = 366 nm seperti ditunjukkan
pada Tabel 2, 3 dan 4.

Tabel 4. Hasil TLC ekstrak n-butanol dengan eluen etil
asetat-metanol (1:1).

Untuk langkah selanjutnya, yaitu kromatografi
kolom, digunakan ekstrak PE sebagai sampel yang akan dipisahkan
komponen-komponennya. Hal ini dengan pertimbangan bahwa ektrak PE memberikan
hasil uji warna positif terhadap adanya flavonoid yang paling banyak dibandingkan
ekstrak kloroform dan ekstrak n-butanol. Larutan pengelusi yang akan digunakan
adalah campuran pelarut PE-kloroform (1:9; v/v). Hasil dari kromatografi kolom
dibedakan berdasarkan harga Rf. Botol yang berisi fraksi tunggal dengan Rf sama
dikelompokkan menjadi satu, sehingga diperoleh 9 fraksi tunggal (Tabel 5).
Setelah itu dilakukan identifikasi menggunakan uji warna dan dilihat
kenampakannya dibawah sinar UV-VIS pada
= 254 nm dan = 366 nm .
Flavonoid adalah
turunan senyawa fenolat, sehingga untuk identifikasi awal dapat digunakan
pereaksi FeC13. Pereaksi FeCl3, bereaksi dengan ion fenolat. membentuk ion
kompleks [Fe(Oar)6]3-. Test fenolat memberikan hasil positif jika setelah
beberapa saat terbentuk warna hijau, merah, ungu, biru atau hitam kuat
(Harborne, 1987).
Pereaksi lain untuk identifikasi fenol adalah
larutan vanilin-HCl. Test positif memberikan warna merah jambu biru, merah bata
atau merah beberapa saat setelah penambahan pereaksi (Harborne et al.,
1975). Analisis dengan uji warna menunjukkan bahwa f7 bukan flavonoid, karena
tidak bereaksi positif terhadap pereaksi FeCl3. Pereaksi ini spesifik untuk
senyawa yang merupakan turunan dari fenol, dan flavonoid yang merupakan turunan
dari fenol seharusnya memberikan uji positif. Fraksi f7 memberi test positif
terhadap pereaksi vanilin-HCl, yang berarti bahwa f7 merupakan senyawa fenol
sederhana atau turunannya. Adapun kedelapan fraksi yang lain memberikan hasil
positif turunan fenol.
Harborne et al. (1975) menyatakan bahwa
pelarut PE bersifat kurang polar, sehingga hanya dapat melarutkan flavonoid
yang bersifat kurang polar. Dilain pihak hasil uji ammonia terhadap kedelapan
fraksi yang diduga flavonoid bereaksi negatif. Dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa jenis flavonoid yang bersifat kurang polar yang mungkin
terdapat pada kedelapan fraksi adalah leucoantosianidin (flavan-3,4-diol),
flavanon, isoflavon atau katekin (Geissman, 1962).
Uji warna menggunakan
Mg/HCl untuk fraksi f1, f2 dan f3 menghasilkan warna merah, sehingga diduga
bahwa ketiga fraksi tersebut mengandung flavonoid golongan flavan-3,4-diol,
flavanon atau isoflavon. Sedangkan fraksi f4, f5 dan f9 menghasilkan warna
coklat, sehingga diduga f4, f5 dan f9 mengandung flavonoid golongan isoflavon.
Uji warna dengan pereaksi Mg/HCl terhadap fraksi f6 dan f8 tidak menunjukkan
perubahan warna, sehingga diduga kedua fraksi tersebut mengandung flavonoid
golongan katekin.
B. Identifikasi struktur flavonoid
Identifikasi struktur flavonoid yang terkandung
dalam ekstrak PE dilakukan dengan alat spektrofotometer UV-Vis, IR dan GC-MS.
Analisis dengan spektrofotometer UV-VIS berguna dalam menentukan golongan
senyawa flavanoid. Analisis penting lainnya adalah menggunakan spektrofotometer
IR untuk menentukan gugus fungsional dalam suatu senyawa, dilanjutkan analisis
spektra GC-MS untuk menentukan struktur senyawa tersebut. Hasil analisis dengan
spektrofotometer UV dan IR menunjukkan bahwa hanya f2, f4 dan f9 yang merupakan
isoflavon. Karena diduga bahwa senyawa aktif dalam rimpang temu ireng adalah
isoflavon, maka identifikasi struktur lebih lanjut hanya dilakukan pada fraksi
f2, f4 dan f9.
C. Identifikasi struktur flavonoid fraksi f2
Panjang spektrum UV-VIS ini memperlihatkan
adanya panjang gelombang maksimum pada 207 nm dan bahu pada 250 nm- 300 nm.
Adanya satu puncak serapan maksimum dan bahu memberi petunjuk bahwa fraksi f2
mengandung senyawa isoflavon.
Adanya pita kuat pada
1714,6 cm-1 yang spesifik untuk gugus karbonil. Serapan tajam pada 1261,4 cm-1
dan 1217,0 muncul dari vibrasi gugus C-O yang terkonjugasi. Pita pada 1091,6
dan 1029,9 cm- 1 merupakan serapan dari gugus metoksi. Pita pada
3020,3 cm-1 berasal dari =C-H str dengan didukung oleh pita-pita
antara 1600 cm-1 dan 1500 cm-1 menunjukkan keberadaan
inti aromatis. Pita kecil lemah yaitu pada 1652,9 cm-1 berasal dari
gugus vinyl. Pita-pita pada daerah dibawah 3000 cm-1 dan diperkuat oleh
pita-pita disekitar 1450 cm-1 menyatakan adanya alkyl yaitu metilen. Berdasarkan
analisis diatas, dapat disimpulkan bahwa f2 mengandung senyawa aromatis, gugus
C=O, C-O, vinyl, -CH2- dan gugus metoksi.
Untuk penentuan
struktur senyawa pada fraksi f2, maka dilakukan analisis dengan alat kromatografi
gas dilanjutkan dengan spektra massa. Analisis flavonoid dengan MS fraksi f2
ini dilakukan terhadap 1 puncak utama.
Spektra fraksi f2
menunjukkan adanya puncak dasar pada m/z = 158 dan puncak-puncak lain pda m/z =
295, 186 dan 128. Puncak dengan limpahan kecil pada m/z = 295 berasal dari ion
molekul yang melepaskan metal (M ±15). Ion molekulnya sendiri yaitu pada m/z =
310 tidak terlihat sebagai puncak, karena ion molekulnya kurang stabil.
Lepasnya radikal C7H7O2 diikuti oleh penatan ulang 2H dan lepasnya H2 dari ion
molekul ditunjukkan oleh limpahan pada m/z = 186 (M±125). Isoflavon ini
mengalami pemecahan karakteristik menjadi 2 bagian yaitu pada m/z = 160 dan
pada m/z = 150. Puncak-puncak ini tidak terlihat karena tidak stabil.
Keberadaan m/z = 150 dapat dilihat dari adanya limpahan pada m/z = 149 yang
berasal dari lepasnya 1H dari puncak karakteristik (M± 150).
Puncak dasar yaitu
puncak dengan limpahan terbesar mempunyai m/z = 159 berasal dari pecahan
karakteristik untuk isoflavon dari ion molekulnya yang telah melepaskan H2.
Puncak pada m/z = 158 ini juga dapat terjadi dari puncak m/z = 186 yang
melepaskan gugus karbon monoksida (CO) yang diikuti oleh penataan ulang dari 1
H. Lepasnya gugus CH2O dari puncak dasar terlihat pada limpahan yang cukup besar
pada m/z = 128. Berdasarkan analisis tersebut, serta didukung oleh analisis
dengan uji warna, spektrofotometer UV-Vis, dan IR, maka dapat dibuat
fragmentasi dari fraksi f2.
D. Identifikasi struktur flavonoid fraksi f4
Hal yang menarik adalah bahwa spektrum UV-Vis
fraksi f4 juga sesuai dengan spektrum UV-Vis untuk isoflavon, hanya ada sedikit
perbedaan bentuk spektrum dan panjang gelombangnya. Hal ini dimungkinkan karena
perbedaan gugus substituennya. Berdasarkan keterangan ini, maka disimpulkan
bahwa fraksi f4 mengandung isoflavon dengan sustituen gugus yang menyebabkan terjadinya
pergeseran hipsokromik, dengan perbedaan jenis ataupun jumlah gugus hipsokromiknya.
Spektrum infra merah f4, didapatkan pita kuat tajam pada 1712,7 cm-1 adalah
karakteristik untuk gugus karbonil. Pita pada 3020,3 cm-1 dari =C-H str
diperkuat oleh pita-pita pada 1558,4 cm-1 memberi petunjuk adanya
gugus aromatis, sedangkan serapan tajam pada 1652,9 cm-1 berasal
dari gugus vinyl. Serapan berupa pita pada 2927,7 cm-1 dan 2871,8 cm-1
diperkuat oleh pita pada 1458 cm-1 dan 1363,6 cm-1 yang
berasal dari gugus alkyl yaitu metal. Pita yang paling kuat yaitu pada 1215,1
cm-1 memberi keterangan yang jelas tentang adanya gugus C-O. Dari
seluruh keterangan yang diperoleh dalam analisis spektrum infra merah f4 dapat
disimpulkan bahwa senyawa mempunyai gugus aromatis, C=O, - C-O dan paling
sedikit satu gugus –CH3. Analisis struktur lebih lanjut dilakukan dengan alat
GC-MS, diperoleh kromatogram fraksi f4. Identifikasi struktur dilakukan terhadap
1 puncak utama yang diperkirakan berasal dari flavonoid.
Dari spektra menunjukan bahwa m/z terbesar
adalah 281, yang berarti bukan ion molekul, karena m/z-nya ganjil. Berdasarkan
hasil analisis sebelumnya, maka spektra ini berasal dari isaoflavon dengan
subtituen 2 gugus metoksi. Ion molekul tidak terdeteksi karena tidak stabil.
Spektra mempunyai puncak dasar pada m/z = 163, dengan puncak-puncak lain pada
m/z 281, 232, 149, 133, dan lain-lain.
E. Identifikasi struktur flavonoid fraksi f9
Analisis terhadap spektrum UV-Vis fraksi f9
memperlihatkan serapan maksimum dan bahu, sehingga diduga fraksi f9 adalah
isoflavon.
Analisis lebih lanjut dilakukan dengan spektra
infra merah. Berdasarkan spektrum tersebut diperoleh keterangan sebagai
berikut: Pita kuat dan tajam pada 1710,7 cm-1 karakteristik gugus
karbonil. Serapan berupa pita melebar pada 3415,7 cm-1 menyatakan
adanya gugus hidroksi (-OH) diperkuat oleh anya gugus –CO pada 1300 cm -1 –
1000 cm-1, yang juga berasal dari gugus eter.
Pita pada 3155,3 cm-1
berasal dari Csp2-H str aromatic, yang didukung oleh pita-pita antara 1600 cm-1
dan 1500 cm-1. Sedangkan pita-pita antara 3000 cm-1 dan
2800 cm-1 adalah berasal dari gugus alkyl. Adanya pita-pita pada
1467,7 cm-1 dan 1382,9 cm-1 menyatakan bahwa gugus
tersebut adalah metal. Hal ini dapat disimpulkan bahwa fraksi f9 mempunyai
gugus aromatik, -OH, eter dan –CH3. Hasil kromatogram GC-MS fraksi f9
menunjukkan adanya 20 puncak, dengan puncak utama no. 20. Spektra GC-MS untuk
puncak no. 20.
Spektra GC-MS fraksi f9
memberi petunjuk adanya limpahan sebagai puncak dasar pada m/z = 149 dan
puncak-puncak lain pada m/z = 167, 132, 123 dan 104. Berdasarkan analisis
dengan uji warna dan terhadap spektra UV-Vis, IR dan GC-MS, dapat disimpulkan
bahwa fraksi f9 mengandung isoflavon dengan subtituen 2 gugus metoksi dan 1
gugus hidroksi.
BAB V
KESIMPULAN
1.
Kandungan
senyawa yang terdapat pada Temu Ireng (Curcuma aeruginosa Roxb) yang termasuk kedalam golongan flavonoid adalah
ekstrak petroleum eter mengandung senyawa
flavonoid golongan isoflavon.
2.
Pelarut yang dapat
menjaring senyawa flavonoid paling banyak adalah ekstrak petroleum eter, kloroform dan n-butanol, sedangkan ekstrak
metanol tidak.
DAFTAR PUSTAKA
Akhyar, 2010. Uji Daya Hambat dan Analisis KLT
Bioautografi Ekstrak Akar dan
Buah
Bakau (Rhizophora stylosa Griff.) terhadap Vibrio. Agromedia
Pustaka, Jakarta.
Cook, N. C. and S. Samman. (1996).
Review Flavonoids-Chemistry, Metabolism,
Cardioprotective Effect And Dietary Sources. J. Nutr.
Biochem (7): 66-76
Cuppett, S., M. Schrepf and C. Hall
III. (1954).Natural Antioxidant –Are They
Reality. Dalam Foreidoon Shahidi:
Natural Antioxidants, Chemistry,
Health Effect and Applications. AOCS Press Champaign,
Illinois:12-24
Fessenden &
Fessenden. 1991. Kimia Organik. Jakarta: Eralangga
Gritter
RJ.,B Jammes dan S.Arthur.1991. Pengantar Kromatografi II. Bandung
:ITB.
Khopkar, S. M.. (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta.
Penerbit Universitas
Indonesia.
Madhavi, D.L., R.S. Singhal, P.R.
Kulkarni. (1985). Technological Aspects
of Food
Ant ioxidants
dalam D.L. Madhavi, S.S. Deshpande dan D.K.
Salunkhe: Food Antioxidant,
Technological, Toxilogical and Health
Perspectives. Marcel Dekker Inc., Hongkong:161-265.
Martunus dan
Helwani, Z., 2007, Ekstraksi Dioksin dalam
Limbah Air Buangan.
Agromedia Pustaka,
Jakarta.
Maslarova, N.V. Yanishlieva. 2001. Inhibiting oxidation dalam Jan Pokorny,
Nedyalka Yanislieva dan Michael
Gordon: Antioxidants infood,
Practical applications. Woodhead
Publishing Limited, Cambridge.
Mursito, B. 2002. Ramuan
Tradisional untuk Penyakit Malaria. Jakarta : Penebar
Swadaya
Rajalakshmi, D
dan S. Narasimhan. (1985). Food
Antioxidants: Sources and Methods
of Evaluation dalam D.L. Madhavi: Food
Antioxidant,
Technological, Toxilogical and
Health Perspectives. Marcel Dekker
Inc.,
Hongkong: 76-77.
Sastrohamidjojo,H.1991.Kromatografi Edisi III. Yogyakarta : Liberti
Setiawan, D. H
dan A. Andoko, 2005. Petunjuk Lengkap Budi Daya Karet.
Agromedia Pustaka :Jakarta.
Stahl.1985. Analisis
Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi.Bandung: ITB. Sudjadi.1988. Metode
Pemisahan.Yogyakarta :Kanisius
White, P.J. and Y. Xing. (1954). Antioxidants from Cereals and Legumes dalam
Foreidoon Shahidi: Natural
Antioxidants,Chemistry,Health Effect
and Applications.AOCS Press,
Champaign, Illinois:25-63.
Widyawati, M., Darsono, F.I., dan Y.E.,Senny, 2003. Penentuan Kadar
Kurkuminoid
dari ekstrak. Jakarta : Penebar Swadaya.
Yazid, Estien.
2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta:
Andi.
Comments
Post a Comment