Skip to main content

Laporan Praktikum Lapangan Taksonomi Hewan


                                     LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN
                        KEANEKARAGAMAN DAN KLASIFIKASI HEWAN
                               Persawahan Piyungan, Pantai Baron dan Pantai SEPANJANG

                                       


         Disusun oleh          :
                                                          Nama                        : Awalia Nur Harirotun Nisa
          NIM                         : 1400017059
          Kelompok                : 3
         Asisten                     : Muhammad Abdul Azis

                 LABORATORIUM BIOLOGI
              UNIVERSITAS AHMAD DHLAN
              YOGYAKARTA
       2015

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan penelitian dengan  judul “Keanekaragaman dan Klasifikasi Hewan di Areal Persawahan Piyungan, Pantai Baron dan Pantai Sepanjang” disusun sebagai tugas praktikum Keanekaragaman dan Klasifikasi Hewan di Laboratorium Biologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Telah disetujui dan disahkan oleh asisten pembimbing pada tanggal :  17 Mei 2015.


Yogyakarta, 17 Mei 2015
       Mengetahui
      Asisten Pembimbing                                                                         Praktikan




(   M. Abdul Azis   )                                                                 ( Awalia Nur Harirotun Nisa )










                                                             KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,taufik, dan Hidayah-Nya sehingga  laporan yang membahas tentang Kelimpahan Keaneragaman dari Insecta di persawahan Piyungan dan Hewan Laut yang ada di Pantai Baron dan Pantai Indrayanti, sebagai dasar untuk dapat mendiskripkan ciri – ciri dan klasifikasi dari insecta dan hewan laut serta mengkomunikasikan peran dalam kehidupan dapat terselesaikan dengan baik. Laporan ini diajukan kepada Laboratorium Universitas Ahmad Dahlan untuk memenuhi tugas sebagai persyaratan mengikuti ujian Responsi Taksonomi Hewan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.        Bapak Agung Budiantoro, M.Si selaku dosen mata kuliah Taksonomi Hewan dan dosen pembimbing Praktikum Taksonomi Hewan,yang selalu memberikan arahan dan informasi yang berkaitan dengan praktikum Taksonomi Hewan.
2.     Mas Azis selaku Asisten Praktikum Lapangan Taksonomi Hewan yang selalu mendampingi dan memberikan pengarahan tentang prosesi jalannya praktikum..
3.    Orang tua tercinta yang senantiasa memberikan Do’a dan dukunganya.
4.      Teman-teman yang telah banyak memberikan motivasi dalam penyelesaian laporan ini.
            Penulis menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dan membangun demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan berguna bagi penulis dan pembaca.


                                                                        Yogyakarta,16 Juni 2015

                                                                                                                                                                                                                                                                          Penulis





DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………….. 
KATA PENGANTAR …………………………………………………………… 
HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………….... 
DAFTAR ISI …………………………………………………………….……….. 
BAB I.  PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ………………………………………………………  
B.     Permasalahan ……………………………………………………….   
C.     Tujuan ……………………………………………………….……..   
D.    Deskripsi Lokasi ………………………………………….………      
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA …………………………………….………       
BAB III. METODE
A.    Alat dan Bahan ……………………………………………………     
B.     Cara Kerja  …………………………………………………..……     
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil ………………………………………………………………      
B.     Pembahasan ………………………………………………………      
BAB V. KESIMPULAN ……………………………………………………         
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………          
LAMPIRAN ………………………………………………………………             






BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Keanekaragaman dan Klasifikasi Hewan atau Taksonomi Hewan merupakan disiplin ilmu yang mengkaji tentang pengelompokan berdasarkan kesamaan bentuk dan fungsi pada tubuh hewan. Tujuan klasifikasi itu sendiri adalah untuk memudahkan mengenali jenis- jenis hewan serta memudahkan komunikasi di dalam biologi. Klasifikasi hewan bersifat dinamis. Hal itu disebabkan beberapa kemungkinan seperti adanya perkembangan pengetahuan tentang hewan, penggunaan karakter yang berbeda dalam klasifikasi. Klasifikasi hewan didasarkan atas persamaan dan perbedaan karakter tertentu pada hewan yang bersangkutan.
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah, baik flora maupun fauna. Kekayaaan ini dapat memberikan keuntungan yang besar bagi masyarakat Indonesia. Pengetahuan yang memadai dan pemanfaatan yang baik tentunya akan cukup sekali dalam memakmurkan bangsa ini. Di Indonesia  ini terdapat lebih dari satu juta spesies hewan yang sudah teridentifikasi dan dalam kehidupan sehari-hari kita lebih sering menjumpai hewan vertebrata daripada avertebrata. Padahal sebenarnya jumlah spesies vertebrata hanya 5% dan selebihnya merupakan avertebrata.
Avertebrata dapat didefinisikan sebagai hewan yang tidak bertulang belakang, sedangkan vertebrata merupakan hewan yang bertulang belakang. Avertebrata atau invertebrata terdiri dari beberapa filum, yaitu porifera (hewan berpori), coelenterata (hewan rongga perut), plathyhelminthes (cacing pipih), nemathelminthes (cacing gilik), annelida (cacing berbuku-buku), echinodermata ( hewan kulit duri), mollusca (hewan  lunak) dan arthropoda (hewan kaki berbuku-buku).
Indonesia memiliki keanekaragaman jenis fauna yang kaya,taksiran jumlah jenis fauna Indonesia adalah hewan mammalia ada 300 spesies,Aves ada 7500 spesies,retilia ada 2500 spesies,Amfibi 1000 spesies,Piches 8500 spesie,Insekta 25.000 spesies. Indonesia memiliki 420 spesies burung yang tersebar di 24 lokasi. Beberapa pulau di Indonesia memiliki jenis hewan endemic,terutama di Pulu Sulawesi,Papua dan Kepulauan Mentawai.
Untuk memenuhi kebutuhan informasi mengenai habitat dan persebaran serta keanekaragaman hewan avertebrata yang ada di lingkungan sekitar, maka kami melakukan observasi lapangan hewan avertebrata dan vertebrata. Dengan tujuan untuk memudahkan mahasiswa (praktikan) dalam mengenal berbagai macam bentuk keanekaragaman hewan avertebrata dan vertebrata yang berada di darat maupun di laut, dan menentukan kedudukannya dalam klasifikasi. Obervasi dilakukan pada hari Kamis, tanggal 17 Mei 2015 yang bertempat di daerah Persawahan Piyungan, Pantai Baron dan Pantai Sundak Gunung Kidul, Yogyakarta.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah diadakannya praktikum lapangan Keanekaragaman dan Klasifikasi Hewan II ini antara lain :
1.       Bagaimana tingkat keanekaragaman hewan yang ada di area Persawahan Piyungan ?
2.       Bagaimana tingkat keanekaragaman hewan yang ada di area Pantai Baron ?
3.       Bagaimana tingkat keanekaragaman hewan yang ada di area Pantai Sundak ?
4.    Apa saja faktor yang menyebabkan tingkat keanekaragaman hewan yang ada di area         Persawahan Piyungan,Pantai Baron,Pantai Sepanjang?

C. Tujuan
Adapun tujuan diadakannya praktikum lapangan Keanekaragaman dan Klasifikasi Hewan II ini antara lain :
1.      Mengetahui tingkat keanekaragaman hewan yang ada di area Persawahan Piyungan.
2.      Mengetahui tingkat keanekaragaman hewan yang ada di area Pantai Baron
3.      Mengetahui tingkat keanekaragaman hewan yang ada di area Pantai Sundak
4.   Mengetahui faktor yang menyebabkan tingkat keanekaragaman hewan yang ada di area Persawahan Piyungan, Pantai Baron dan Pantai Sepanjang.

D. Deskripsi Lokasi
1. Persawahan Piyungan
Piyungan merupakan Merupakan daerah persawahan yang sebagian besar daerah tersebut ditumbuhi oleh tanaman padi, daerah tersebut digunakan oleh penduduk sekitar untuk bercocok tanam atau bertani. Karena Piyungan merupakan daerah persawahan, maka disana banyak dijumpai  hewan-hewan seperti insecta, reptilia, amfibi, molusca, tetapi yang mendominasi adalah  phylum  arthropoda, kesemua hewan ini hidup bersama-sama dalam suatu ekosistem.
2. Pantai baron
Pantai baron terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, sekitar 23 kilometer arah selatan Wonosari, sedangkan dari Kota Yogyakarta berjarak sekitar 65 kilometer. Pantai Baron merupakan teluk yang diapit oleh dinding bukit yang hijau, dipenuhi oleh pohon kelapa. Teluk ini juga merupakan muara dari aliran sungai di bawah batu karang yang airnya cukup jernih. Seperti halnya beberapa pantai lain di selatan Pulau Jawa, kondisi Pantai Baron yang memungkinkan para nelayan berlabuh dengan hasil tangkapan dari laut. Seperti ikan, sehingga di sana banyak pelelangan ikan seperti ikan tongkol, kakap, pari dan lain-lain. Serta hewan laut lainnya (undur-undur, kerang, cumi-cumi, udang dan kepiting).
3. Pantai Sepanjang
Pantai Sundak berlokasi di desa Sidoharjo, Tepus, Gunungkidul, Jogjakarta. Pantai Sundak berada di ujung paling timur deretan pantai-pantai Baron, Krakal, Kukup. Suasana alami itulah yang menjadikan Pantai Sepanjang lebih dari Pantai Kuta. Sepanjang tidak menawarkan hal-hal klise seperti beach cafe dan cottage mewah, tetapi sebuah kedekatan dengan alam. Buktinya, anda akan tetap bisa menggeledah karang-karang untuk menemukan berbagai jenis kerang-kerangan (Mollusca) dan bintang laut (Echinodermata). Anda juga tetap bisa menemukan limpet di batuan sekitar pantai dan mencerabut rumput laut yang tertanam











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Wilayah Indonesia memiliki kekayaan fauna yang sangat beragam. Keragaman fauna ini karena berbagai hal :
1. Terletak di daerah tropis, sehingga mempunyai hutan hujan tropis (trophical rain forest)   yang kaya akan tumbuhan dan hewan hutan tropis.
  2. Terletak di antara dua benua yaitu benua Asia dan Australia
  3. Merupakan negara kepulauan, hal ini menyebabkan setiap pulau memungkinkan tumbuh dan  dan menyebarnya hewan dan tumbuhan khas tertentu sesuai dengan kondisi alamnya.
  4. Indonesia terletak di dua kawasan persebaran fauna dunia, yaitu Australis dan Oriental
(
Abdurrahman,2007).
Klasifikasi adalah penggolongan aneka jenis hewan atau tumbuhan kedalam golongan-golongan tertentu. Golongan-golongan ini disusun runtut sesuai dengan tingkatannya (hierarkinya), yaitu dimulai dari tingkatan yang lebih kecil hingga ketingkatan yang lebih besar. Ilmu yang mempelajari prinsip dan cara mengelompokkan mahluk hidup kedalam golongannya disebut taksonomi atau sistematik (Abdurrahman,2007).
Hewan Invertebrata adalah hewan yang tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan anatomi sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan punggung/belakang, juga sistem pencernaan, pernapasan dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan vertebrata.Avertebrata dibagi menjadi 9 filum yaitu protozoa, porifera, cnidaria, platyhelminthes, nematelminthes, annelida, mollusca, arthropoda, dan echinodermata (Romimohtarto, 2007).
A. Filum Porifera
Filum porifera disebut juga hewan spons. Porifera merupakan hewan multiseluler yang paling sederhana, tidak memiliki kepala atau anggota badan lain layaknya hewan. Oleh karena itu, banyak yang keliru mengidentifikasi. Porifera sebagai tanaman laut. Tubuh porifera dihubungkan oleh saluran-saluran yang terbuka di ujungnya dan membentuk pori-pori. Porifera memiliki sekitar 10.000 spesies yang kebanyakan hidup di air laut.. hewan ini merupakan  hewan sessile (hidup melekat pada substrat). Spesies tersebut bervariasi dalam hal bentuk, ukuran dan warna. Porifera biasanya dikelompokkan berdasarkan materi yang ditemukan di dalam rangkanya.. porifera yang terkenal adalah bunga karang yang memiliki serat fleksibel dalam mesenkimnya. Serat tersebut dibuat dari protein yang disebut spongin (Campbell et al. 2005).
Porifera mempunyai 3000 spesies dan secara umum hidupnya dilaut dangkal sampai kedalaman  5 km. dari 3000 ribu spesies yang dikenal hanya 150 spesies yang hidup di air tawar sampai kedalaman 2 meter dan jarang lebihn dari 4 meter yang biasanya hidup pada air jernih dan tenang. Dilaut jenis calcarea  umumnya terbatas pada daerah pantai dangkal (Sugiarti, 2004).
Reproduksi porifera berlangsung secara aseksual dengan membentuk kuncup, yaitu pertama arkeosit mengumpulkan nutrien dengan memfagosit sel lain untuk dikumpulkan dalam rongga tubuh.  Sel tersebut kemudian mengelilingi serat kumpulan cluster dan kapsul yang mengelilinginya.  Pada kondisi yang tepat sel meninggalkan gemmulae dan keluar melalui lubang membentuk spons baru. seksual dengan pertemuan ovum dan sperma. Perkembangan  secara generatif berlangsung dengan terjadinya peleburan sel kelamin jantan dan betina  yang menghasilkan zigot berkembang menjadi larva yang kemudian menghasilkan spons dewasa yang berkelamin satu atau hermaprodit (Kimball, 2000).
Makanan Porifera berupa zat-zat organik dan semua organisne kecil seperti palankton. Porifera tidak mempunyai alat pencernaan khusus, system pencernaannya bersifat intraseluler.  Zat makanan yang diambil oleh sel-sel koanosit yang diteruskan ke spongosoel mengikuti aliran air ke oskulum (Brotowidjoyo, 2004).
Secara ekonomis Porifera tidak banyak memberikan keuntungan pada manusia, namun diantara beberapa porifera  ada yang menguntungkan yaitu spons yang berspikula dapat di manfaatkan sebagai alat untuk membersihkan badan (Kimball, 2000).

B. Filum Cnidaria (Coelenterata)
Anggota dari filum ini adalah Hydra, ubur-ubur, anemon laut, dan koral. Hewan dari filum ini digolongkan ke dalam hewan diploblastik dan bersimetri tubuh radial. Cnidaria sebagian besar hidup di perairan laut. Cnidaria disebut juga sebagai hewan Coelenterata. Spesies anggota Filum Cnidaria tubuhnya dikelilingi oleh lengan-lengan halus yang disebut tentakel dan dalam tentakel ini terdapat nematokist. Nematokist mengandung racun yang berguna untuk melumpuhkan mangsanya. Filum Cnidaria memiliki ciri khas, yaitu sebagai organisme yang selama hidupnya mengalami dua bentuk kehidupan (dimorfis). Bentuk hidup tersebut yaitu polip dan medusa. Polip adalah bentuk hidup yang menempel pada dasar perairan, sedangkan medusa adalah bentuk hidupyang bergerak melayang bebas diperairan (Campbell et al. 2005).
Coelenterata berasal dari bahasa Yunani yaitu coilos yang berarti rongga dan enteron yang berarti usus. Jadi Coelenterata dapat diartikan sebagai hewan yang memiliki rongga yang berfungsi sebagai usus. Nama Filum Coelenterata lebih sering dikenal sebagai Cnidaria. Cnidaria berasal dari bahasa Yunani yaitu cnido yang berarti penyengat karena hewan ini memiliki sel penyengat (Pandhu, 2010).
1.      Ciri – Ciri
Filum Coelenterata memiliki beberapa ciri khusus yaitu:
a.         Merupakan Hewan multiseluler Invertebrata.
b.         Habitatnya di laut atau air tawar.
c.         Struktur tubuhnya radial simetri .
d.        Memiliki sel-sel knidosit / knidoblast yang berisi organel-organel penyengat.
e.         Tubuh simetri radial.
f.          Tubuhnya terdiri dari kantong dan rongga gastrovaskuler untuk mencerna makanan.
g.         Memiliki mulut sekaligus sebagai anus.
h.         Memiliki tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsanya.
i.           Memiliki bentuk tubuh polip dan medusa (Pandhu, 2010).
2.      Klasifikasi
Filum Coelenterata dibagi menjadi empat kelas yaitu:
a.       Kelas Hydrozoa
Hydrozoa berasal dari kata hydra, artinya hewan yang berbentuk seperti ular. Umumnya berbentuk soliter atau berkoloni. Soliter berbentuk polip dan koloni berbentuk polip dan medusa. Lebih sering ditemukan dalam bentuk koloni polip sedankan dalam bentuk medusa jarang banyak ditemukan. Contohnya Hydra dan Obelia. (Winarni. 2011).
Bentuk tubuh hydra seperti polip, dan habitatnya di air tawar. Ukuran tubuhnya 10 mm – 30 mm. Makananya berupa tumbuhan kecil dan crustacea. Bagian tubuh sebelah bawah tertutup membentuk kaki gunanya untuk melekat pada objek dan bergerak. Tentakelnya berfungsi sebagai alat untuk menangkap makanan. Selanjutnya makanan dicerna dalam rongga gastrovaskuler. Reproduksi secara aseksual dilakukan dengan cara membentuk tunas. Tunas memiliki epidermis, mesoglea dan rongga gastrovaskuler. Tunas tersebut akhirnya membesar dan akhirnya melepaskan diri dari tubuh induknya. Reproduksi seksual terjadi melalui pelebura sel telur dari ovarium dengan sperma dari testis. Hasil pertemuan sperma dengan ovum ini akan membentuk zigot yang selanjutnya akan membentuk individu baru. (Winarni, 2011).
1)        Hydra
Ciri-ciri khusus yang dimiliki hydra :
-          Hydra habitatnya di air tawar
-          Bersifat soliter
-          Bentuk menyerupai silinder yang dapat dipanjang pendekkan
-          Berwarna putih dengan panjang 1-3 mm dan garis tengah 1mm
-          Mulut berada diujung yang disebut ujung oral
-          Reproduksi aseksual dengan membentuk tunas pada sisi tubuh
-          Secara seksual diawali dengan pembentukan ovarium dan testis
-          Testis berada di atas dan ovarium berada di bawah
2)      Obelia
Ciri-ciri khusus obelia:
-          Obelia hidup di perairan laut
-          Ada yang bersifat polyp dan medusa
-          Mengalami pergiliran hidup dalam siklus hidupnya
-          Fase polyp Obelia biasa hidup berkoloni.                                            
Kelas Hydrozoa terdiri dari:
-          Ordo Hydroida, contoh: Obelia, Hydroctinia, dan Hydra
-          Ordo Milleporina, contoh: Millepora
-          Ordo Stylasterina, contoh: Stylaslantheca, Hydralimania
-          Ordo Stranchylina, contoh: Craspedacusta sowerbii
-          Ordo Siphonopora, contoh: Physalia pelagic
-          Ordo Chondrophora, contoh: Porpita dan Vellela
-          Ordo Actinulida, contoh: Octohydra (Setijanto, 2006).



b.      Kelas Schypozoa
Schypozoa berasal dari bahasa yunani schypo yang berarti mangkok dan zoa yang berarti hewan. Bentuk serupa medusa dengan tentakel. Mempunyai mesoglea gelatinosa yang tebal. Rongga pencernaannya membentuk percabangan yang berupa saluran-saluran, kemungkinan bentuk polip sangat kecil. Sifat kelaminnya diesius. Semuanya hidup di laut (Suhardi, 1983).
Medusa umumnya bertahan lebih lama dalam siklus hidup kelas Schypozoa. Medusa dari sebagian besar spesies hidup diantara plankton sebagai ubur-ubur. Sebagian besar dari hewan Scypozoa yang hidup di pantai akan melalui tahapan polip kecil selama siklus hidupnya, tetapi ubur-ubur yang hidup di laut terbuka umumnya tidak melalui tahapan polip yang sesil.
Ordo pada Scyphozoa yaitu adalah sebagai berikut:
1)    Ordo Stauromedusa
2)    Ordo Cubomedusa, contoh: Chyronex FleckeryL
3)    Ordo Coronatae, contoh: Periphylla
4)    Ordo Semaestomae, contoh: Chrysaora, Aurelia, Cyanea.
5)    Ordo Rhyzostomae, contoh: Cassiopeia dan Rhizost (Campbell, dkk, 2003).
c.       Kelas Anthozoa
Anthozoa berasal darikata Anthos = bunga, zoon = binatang. Anthozoa berarti hewan yang bentuknya seperti bunga atau hewan bunga. Anthozoa dalam daur hidupnya hanya mempunyai polip. Bila dibandingkan, polip Anthozoa berbeda dengan polip pada Hydrozoa (Sudjadi, 2007).
Kelas Anthozoa meliputi Mawar Laut (Anemon Laut) dan Koral (Karang).
1)    Mawar Laut (Anemon Laut)
Mawar laut hidup menempel pada dasar perairan. Pada permukaan mulut mawar laut terdapat banyak tentakel berukuran pendek, tentakel ini berfungsi untuk mencegah agar pasir dan kotoran lain tidak melekat sehingga mawar laut tetap bersih. Beberapa contoh mawar laut : Urticina lofotensis, Anthopleura xanthogrammica, dan Euphyllia, Glabrescens (Winarni, 2011).
2)    Koral (Karang)
Koral atau karang cara hidupnya berkoloni membentuk massa yang kaku dan kuat. Massa itu sebenarnya karang kapur yang dibentuk oleh generasi polip. Koral yang sudah mati, rangka kapurnya akan menjadi batu karang/terumbu. Ada tiga tipe batu karang,yaitu karang pantai, karang penghalang dan karang atol. Contoh : Anemon laut : Metridium marginatum, Utricina crasicaris. Karang laut : Astrangia denae, Tubiphora musica (Sudjadi, 2007)
d.      Kelas Cubozoa
Pada tahun 1980, Cubozoa termasuk dalam golongan Scyphozoa sebagai ordo Cubomedusa atau Carybdeida atas dasar beberapa persamaan anatomi, fisiologi, dan daur hidupnya. Namun kemudian merupakan kelas tersendiri karena Cubozoa juga memiliki persamaan ciri dengan Hydrozoa (Setijanto, 2006).
 Medusa Cubozoa termasuk ubur-ubur sejati karena berukuran besar, pelagis, dan dominan. Lonceng medusa mempunyai empat sisi datar sehingga bentuknya seperti kubus (Setijanto, 2006 )
Beberapa jenis Cubomedusa berbahasa bagi penyelam atau perenang laut. Tentakel Cubomedusa yang mengandung nematocyst yang berbahaya apabila terkena anggota tubuh karena dapat mengakibatkan borok yang kesembuhannya lambat dan menimbulkan kematian dalam waktu 3-20 menit (Setijanto, 2006).

C. Filum Mollusca
Mollusca adalah hewan berbadan lunak (Latin molluscus, “lunak”) tetapi sebagian besar terlindungi oleh suatu cangkang keras yang mengandung kalsium karbonat. Slug, cumi-cumi dan gurita memiliki cangkang yang tereduksi , di mana sebagian besar diantaranya adalah cangkang internal, atau mereka telah kehilangan keseluruhan cangkang selama proses evolusinya. Meskipun terdapat perbedaan yang jelas, mollusca memiliki kemiripan dalam bangun tubuh. Tubuh mollusca memiliki tiga bagian utama: kaki berotot, umumnya digunakan untuk pergerakan; massa viseral yang mengandung sebagian besar organ-organ internal; dan mantel, suatu lipatan jaringan yang menutupi massa viseral dan mensekresi cangkang (jika ada). Pada banyak mollusca, mantel meluas melebihi massa viseral, dan menghasilkan suatu ruang yang penuh air atau rongga mantel (mantle cavity), yang menampung insang, anus dan pori ekskretoris. Banyak mollusca yang mengambil makanan menggunakan organ kasar mirip tali karet yang disebut radula. Sebagian mollusca memiliki organ jenis kelamin yang terpisah, dengan gonad (ovarium dan testes) yang terletak di dalam massa viseral. Namun demikian, banyak keong dan bekicot adalah hemafrodit (Campbell et al. 2005).
Lubang anus dan eksketori umumnya membuka ke dalam rongga mantel. Saluran pencernaan berkembang baik. Sebuah rongga bukal yang umumnya mengandung radula berbentuk seperti proboscis. Esophagus merupakan perkembangan dari stomodeum yang umumnya merupakan daerah khusus untuk menyimpan makanan dan fragmentasi. Pada daerah pertengahan saluran pencernaan terdapat ventrikulus (lambung) dan sepasang kelenjar pencernaan yaitu hati. Sedangkan daerah posterior saluran pencernaan terdiri atas usus panjang yang terakhir dengan anus. Memiliki sistem peredaran darah dan jantung. Jantung dibedakan atas aurikel dan ventrikel. Meskipun memiliki pembuluh darah namun darah biasanya mengalami sirkulasi ruang terbuka. Darah mengandung homosianin, merupakan pigmen respirasi (Jasin, 1992).
Mollusca memiliki rumah secara umum berbetuk spesial. Kaki untuk merayap. Bentuk kepala jelas, dengan tentakel dan mata. Dalam ruang bukal (pipi) terdapat radula (pita bergigi). Pernapasan dengan insang, paru-paru atau keduanya. Hidup di laut, air tawar, dan darat. Memiliki kelamin terpisah, atau hermaprodit, ovipar atau ovovivipar. Contoh : bekicot (Helix aspersa), siput laut (Fissurella sp) dan siput air tawar (Lymnaea sp) tidak semua hewan Mollusca memiliki cangkok. Anggota jelas Aplacophora tidak memiliki cangkok, sedangkan kelas Chepalopoda juga tidak memiliki cangkok atau jika ada mereduksi. Pada Mollusca lainnya cangkok terlihat nyata dan berfungsi penting yaitu penyokong tubuh Mollusca yang lunak dan menjaga dari serangan predator (Jasin, 1992).
Mollusca merupakan filum terbesar dari kingdom animalia. Mollusca dibedakan menurut tipe kaki, posisi kaki, dan tipe cangkang, yaitu Gastropoda, Pelecypoda, dan Cephalopoda (Jasin, 1992).
ü Kelas Gastropoda
Kelas filum Mollusca yang terbesar, Gastropoda, memiliki lebih dari 40.000 spesies yang hidup. Sebagian besar gastropoda adalah hewan laut, tetapi banyak juga spesies air tawar. Bekicot dan slug telah beradaptasi terhadap kehidupan di darat (Campbell et al. 2005).
ü  Kelas Bivalvia
Mollusca dari Kelas Bivalvia meliputi banyak spesies remis, tiram, kerang hijau, dan scallop. Bivalvia memiliki cangkang yang terbagi menjadi dua paruhan. Kedua bagian cangkang itu bertaut pada garis pertengahan dorsal, dan otot adduktor yang sangat kuat menarik kedua paruh cangkang agar menutup untuk melindungi hewan berbadan lunak itu. Rongga mantel hewan bivalvia memiliki insang yang digunakan untuk makan dan untuk pertukaran gas. Sebagian bivalvia adalah pemakan suspensi. Bivalvia tidak memiliki kepala yang jelas dan radula telah hilang (Campbell et al. 2005).

ü  Kelas Cephalopoda
Cephalopoda (cephalopod artinya “kaki kepala”) adalah satu-satunya mollusca dengan sistem sirkulasi tertutup. Kaki hewan cephalopoda telah termodifikasi menjadi sifon berotot dan bagian-bagian tentakel dan kepala dirancang untuk bergerak secara cepat, suatu adaptasi yang cocok dengan cara makannya sebagai karnivora.tMereka juga memiliki suatu sistem syaraf yang berkembang dengan baik dengan otak yang kompleks. Kemampuan untuk belajar dan bertingkah laku dalam cara yang rumit keungkinan lebih penting bagi pemangsa yang bergerak cepat dibandingkan dengan hewan yang diam seperti remis. Cumi-cumi dan gutita memiliki organ indera yang berkembang baik (Campbell et al. 2005).
D. Filum Arthropoda
Diperkirakan bahwa populasi arthropoda dunia, yang meliputi crustacea, laba-laba, dan serangga, berjumlah sekitar 1018 individu. Hampir 1 juta spesies arthropoda telah dideskripsikan, dan sebagian besar adalah serangga. Keanekaragaman dan keberhasilan arthropoda sebagian besar dikaitkan dengan segmentasinya, eksoskeletonnya yang keras, dan tungkai yang bersendi. (Arthropoda berarti “kaki bersendi”). Kelompok segmen dan anggota badannya telah terspesialisasi untuk berbagai ragam fungsi. Sebagai contoh, anggota badan secara beragam dimodifikasi untuk berjalan, makan, dan sebagai reseptor sensoris, kopulasi, dan untuk pertahanan. Tubuh arthropoda sepenuhnya ditutupi oleh kutikula, suatu eksoskeleton (kerangka eksternal) yang dibangun dari lapisan-lapisan protein dan kitin.  Kutikula itu dapat merupakan pelindung yang tebal dan keras di atas beberapa bagian tubuh, dan setipis kertas dan fleksibel pada lokasi lain, seperti persendian. Eksoskeleton akan melindungi hewan dan menyediakan titik pertautan bagi otot yang menggerakkan anggota badan. Eksoskeleton yang kaku juga menimbulkan beberapa permasalahan evolusioner. Sebagai contoh, untuk dapat tumbuh, arthropoda sewaktu-waktu harus melepaskan eksoskeletonnya yang lama dan mensekresikan eksoskeleton yang lebih besar. Proses ini disebut molting, membutuhkan energi dyang sangat banyak dan meninggalkan hewan tersebut rentan terhadap pemangsa dan bahaya lainnya untuk sementara waktu. Arthropoda menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya dengan adanya organ sensoris yang berkembang baik, yang meliputi mata, reseptor olfaktori untuk penciuman, dan antena untuk sentuhan dan penciuman. Arthropoda memiliki sistem sirkulasi terbuka (open circulatory system) dimana cairan yang disebut hemolimfa didorong oleh suatu jantung melalui arteri pendek dan kemudian masuk ke dalam ruang yang disebut sinus yang mengelilingi jaringan dan organ. Arthropoda teresterial umumnya memiliki permukaan internal yang dkhususkan untuk pertukaran gas. Misalnya, sebagian besar serangga memiliki sistem trakea, saluran udara bercabang yang menuju ke arah bagian dalam dari pori-pori yang ada pada kutikula.
Atrhropoda terdiri dari 5 kelas utama yaitu:
ü  Arachnida
Tubuh memiliki satu atau dua bagian utama, enam pasang angota badan (chelicerae, pedipalpus, dan empat pasang kaki untuk berjalan), sebagian besar adalah hewan darat seperti laba-laba, kutu, dan tungau.
ü  Diplopoda
Tubuh dengan kepala yang jelas memiliki antena besar dan tiga pasang bagian mulut yang mengunyah, badan bersegmen dengan dua pasang kaki berjalan per segmen, teresterial, dan herbivora, seperti: kaki seribu.
ü  Chilopoda
Tubuh dengan kepala yang jelas yang memiliki  antena besar dan tiga pasang bagian mulut; anggota badan segmen tubuh pertama  dimodifikasi sebagai cakar beracun; segmen badan mengandung satu pasang kaki berjalan setiap segmen; teresterial; karnivora. Contoh:lipan.
ü  Crustacea
Tubuh dengan dua atau tiga bagian; memiliki antena; bagian mulut untuk mengunyah, tiga atau lebih pasang kaki, sebagian besar adalah hewan laut seperti kepiting, udang galah, crayfish atau udang karang, dan udang.
ü  Insekta (serangga)
Tubuh terbagi menjadi kepala toraks, dan abdomen; memiliki antena; bagian mulut dimodifikasi untuk mengunyah, menyedot atau menelan; umumnya memiliki dua pasang sayap dan tiga pasang kaki, sebagaian besar adalah hewan teresterial.
Insekta terdiri dari beberapa ordo, diantaranya adalah:
a.       Orthoptera
Memiliki dua pasang sayap bermembran (beberapa tahapan tidak bersayap), mulut untuk mengunyah; sangat sosial; metamorfosis tak sempurna. Contoh: rayap.
b.      Mantodea
Tubuh terbagi menjadi tiga bagian yaitu: kepala (caput), dada (thorax) dan perut (abdomen); antena berbentuk kawat; betina biasanya memiliki abdomen yang lebih besar dibandingkan dengan yang jantan; metamorfosis tidak sempurna. Contoh:belalang sembah (Erya, 2011).
c.       Hymenoptera
Memiliki dua pasang sayap  bermembran, kepala dapat bergerak; bagian mulut untuk mengunyah atau penghisap; organ untuk menyengat pada bagian posterior pada betina; metamorfosis sempurna; banyak spesies bersifat sosial. Contoh: semut, lebah, tawon.
d.      Lepidoptera
Memiliki dua pasang sayap yang ditutupi dengan sisik kecil; lidah panjang melilit untuk penghisap; metamorfosis sempurna. Contoh: kupu-kupu, ngengat.
e.       Odonata
Memiliki dua pasang sayap bermembran; bagian mulut untuk menggigit; metamorfosis tak sempurna. Contoh: Damselfly, capung.
f.       Hemiptera
Memiliki dua pasang sayap (satu pasang sebagian seperti berkulit, satu pasang bermembran); mulut untuk menusuk dan menyedot; metamorfosis tak sempurna. Contoh: kutu busuk, assassin bug, bedbug, chinch bug
g.      Diptera
Memiliki satu pasang sayap dan halter (organ untuk keseimbangan); mulut untuk penghisap, menusuk atau menelan; metamorfosis  sempurna. Contoh: lalat, nyamuk (Campbell et al. 2005).
E. Filum Echinodermata
Echinodermata ( dari bahasa Yunani echin, “berduri” dan derma, “kulit”) adalah hewan sesil atau hewan yang bergerak lamban dengan simetri radial sebagai hewan dewasa. Bagian internal dan eksternal hewan itu menjalar dari tengah atau pusat, seringkali berbentuk lima jari-jari. Kulit tipis menutupi eksoskeleton yang terbuat dari lempengan keras. Sebagian besar hewan echinodermata bertubuh kasar karena adanya tonjolan kerangka dan duri yang memiliki berbagai fungsi. Yang khas dari echinodermata adalah sistem pembuluh air (water vascular system), suatu jaringan  saluran hidrolik yang bercabang menjadi penjuluran yang disebut kaki tabung (tube feet) yang berfungsi dalam lokomosi, makan, dan pertukaran gas. Reproduksi anggota filum echinodermata umumnya melibatkan individu jantan dan betina yang terpisah dan membebaskan gametnya ke dalam air laut. Hewan dewasa yang radial tersebut berkembang melalui metamorfosis dari larva bilateral. Di antara 7000 atau lebih anggota filum echinodermata, semuanya adalah hewan laut, dibagi menjadi enam kelas: Asteroidea (bintang laut), Ophiuroidea (bintang ular), Echinoidea ( bulu babi dan sand dollar), Crinoidea (lili laut dan bintang bulu), Holothuroidea (timun laut), dan Concentrychycloidea (aster laut). Aster laut, yang baru ditemukan baru-baru ini, hidup pada kayu yang terendam air laut dalam (Campbell et al 2005)
Dalam ekosistem Echinodermata berkedudukan sebagai hewan pemakan bangkai, semua jenisnya mempunyai habitat di dalam air laut. Pada hewan dewasa simetri tubuhnya radial sedangkan saat masih larva simetri tubuhnya bilateral. Pergerakan hewan ini menggunakan sistem pembuluh air atau disebut dengan sistem ambulakral (gerakan menggunakan kaki ambulakral) (Romimohtarto, 2005).
Sistem ambulakral berupa celah insang atau saluran air yang dinamakan madreporit yang berupa saluran batu atau saluran cincin. Sistem saraf terdiri dari cincin saraf. Organ pernafasan dan ekskresi dinamakan papula (Romimohtarto, 2005).





Phylum Echinodermata dibagi menjadi 5 kelas yaitu :
1.      Asteroidea (Bintang Laut)
Mempunyai lengan sebanyak 5 buah atau kelipatan 5. Pada lengannya terdapat duri-duri tumpul yang berbentuk seperti catut yang disebut pediselaria. Contohnya Linkia sp. Bintang laut hidup di dasar perairan yang berbatu karang. Hewan ini bergerak lambat menggunakan deretan kakinya yang berbentuk tabung penghisap kecil. Bintang laut termasuk hewan karnivora, makanannya adalah hewan kecil lain seperti kerang, koral dan ikan-ikan kecil. Bintang laut berkembang biak secara fertilisasi internal dengan cara mengeluarkan sel telur dan sperma dalam jumlah banyak ke air laut. Setelah pembuahan terjadi larva melayang terbawa arus sekitar dua bulan sebelum berkembang menjadi bintang laut dewasa (Romimohtarto, 2005).
2.      Echinoidea (Landak Laut)
Echinoidea berbentuk bola atau pipih, tanpa lengan.Echinoidea yang berbentuk bola misalnya bulu babi (Diadema saxatile) dan landak laut (Arabcia punctulata). Permukaan tubuh hewan ini berduri panjang. Echinoidea memilki alat pencernaan khas, yaitu tembolok kompleks yang disebut lentera aristoteles. Fungsi dari tembolok tersebut adalah untuk menggiling makanannya yang berupa ganggang atau sisa-sisa organisme. Echinoidea yang bertubuh pipih misalnya dolar pasir (Echinarachnius parma). Permukaan sisi oral tubuhnya pipih, sedangkan sisi aboralnya agak cembung.Tubuhnya tertutupi oleh duri yang halus dan rapat. Durinya berfungsi untuk bergerak, menggali, dan melindungi permukaan tubuhnya dari kotoran. Kaki ambulakral hanya terdapat di sisi oral yang berfungsi untuk mengangkut makanan (Romimohtarto, 2005).
3.      Ophiuroidea (Bintang Ular)
Ophiuroidea terdiri dari 2.000 spesies, contohnya adalah bintang ular (Ophiothrix). Ophiuroidea (dalam bahasa yunani, ophio = ular) berbentuk seperti Asteroidea, namun lengannya lebih langsing dan fleksibel. Ophiuroidea tidak memiliki anus dan gerakannya sangat cepat contoh : Ophiopholis sp. Cakram pusatnya kecil dan pipih dengan permukaan aboral (dorsal) yang halus atau berduri tumpul. Cakram pusat berbatasan dengan lengan-lengannya. Hewan ini pun juga dapat beregenerasi (Campbell et al. 2005).
4.      Crinoidea (Lili Laut)
Hewan ini berbentuk seperti tumbuhan. Crinoidea terdiri dari kelompok yang tubuhnya bertangkai dan tidak bertangkai. Kelompok yang bertangkai dikenal sebagai lili laut, sedangkan yang tidak bertangkai dikenal sebagai bintang laut berbulu. Contoh lili laut adalah Metacrinus rotundus dan bintang laut berbulu adalah Oxycomanthus benneffit dan Ptilometra australis. Lili laut menetap di kedalaman 100 m atau lebih. Sedangkan yang berbulu hidup di daerah pasang surut sampai laut dalam. Lengannya yang berjumlah banyak mengelilingi bagian kaliks (dasar tubuh). Pada kaliks terdapat mulut dan anus. Jumlah lengan kelipatan lima dan mengandung cabang-cabang kecil yang disebut pinula. Sistem ambulakral tidak memiliki madreporit dan ampula. Crinoidea adalah pemakan cairan, misalnya zooplankton atau partikel makanan. Permukaan oral Lili laut menghadap ke atas sehingga (berbeda dengan echinodermata lainnya) (Campbell et al. 2005).
5.      Holothuroidea (Teripang atau Mentimun Laut)
Contoh hewan ini adalah Holothuria sp. Hewan ini termasuk invertebrata air laut yang memiliki daya regenerasi sangat besar dan mempunyai daur hidup selama 5-10 tahun. Hewan ini tidak berlengan dan anus terdapat pada kutub yang berlawanan dari tubuhnya. Daerah ambulakral dan inter-ambulakral tersusun berselang-seling di sepanjang tubuhnya. Alur ambulakral tertutup, madreporit terdapat di rongga tubuhnya. Sebagian kaki ambulakral termodifikasi menjadi tentakel oral. Sistem respirasinya disebut pohon respirasi, karena sistem tersebut terdiri dari dua saluran utama yang bercabang pada rongga tubuhnya. Keluar dan masuknya air melalui anus (Campbell et al. 2005).
Semua anggota filum ini hidup di air laut, mempunyai kulit berduri dan simetri radial dan bergerak lamban dengan bantuan kaki tabung, perluasan dan penciutan dilakukan oleh gerakan air laut ke dalam dan ke luar dari sistem pembuluh air (Romimohtarto, 2005).
F. Annelida
Annelida berarti “cincin kecil” dan tubuh bersegmen yang mirip dengan serangkaian cincin yang menyatu merupakan ciri khas filum Annelida. Terdapat sekitar 15.000 spesies filum Annelida. Anggota filum Annelida hidup di laut, sebagian besar habitat air tawar, dan tanah lembab (Campbell et al. 2005).
Ciri – ciri Annelida :
a.       Tubuh panjang bergelang – gelang ( matameri )
b.      Hidup bebas
c.       Hermafrodit, tidak dapat membuahi sendiri.
d.      Bernapas dengan seluruh permukaan tubuh
e.       Alat pencernaan lengkap
f.       Alat ekskresi tubuh disebut nefridia
g.      Sistem saraf : gamglion, otak, ganglim ventral
h.      Sistem peredaran darah tertutup
i.        Memiliki rongga badan triploblastik selomata
Filum Annelida terbagi menjadi 3 kelas, yaitu :
a.         Polychaeta
        Habitatnya di lautan, tubuhnya terdiri dari banyak rambut Þ (poly = banyak, chaeta = rambut/bulu). Contoh cacing tersebut adalah : Nereis viren, Eunice viridis (cacing wawo) dan Lysidice oele (cacing palolo). Dua jenis terakhir sering dikonsumsi oleh orang-orang di Kepulauan maluku.
b.    Oligochaeta
          Habitatnya di tanah, memiliki sedikit rambut (oligo = sedikit, chaeta = rambut/bulu). Contoh cacing tersebut adalah : Lumbricus terestris dan Pheretima sp. (keduanya disebut cacing tanah). Mempunyai organ KIitellum yang berisi semua kelenjar, termasuk kelenjar kelamin. Pernafasan dilakukan oleh pemukaan tubuhnya. Makanan diedarkan ke seluruh tubuh dengan sistem peredaran darah. Contoh lain : Moniligaster houtenii (endemik di Sumatera).
c.Hirudinae
          Tidak memiliki rambut (chaeta) tetapi menghasilkan zat antikoagulasi (anti pembekuan darah) yang dinarnakan Hirudin (Martomijoyo, 1990).

G. Filum Chordata
Berdasarkan kemiripan tertentu dalam perkembangan embrionik awal, Chordata dikelompokkan sebagai deuterostomata bersama-sama dengan Echinodermata. Vertebrata membentuk satu subfilum dalam filum Chordata. Chordata juga meliputi dua subfilum invertebrata yaitu urchordata dan cephalochordata. Ada 4 ciri khas chordata ini adalah notokord, tali saraf berlubang, celah faring, dan ekor pascaanus berotot (Hademenos, 2005).
Ciri spesifik dari subfilum vertebrata adalah tulang belakang skeletal dan kranium, yang membungkus sumsum tulang belakang dan otot, sefalisasi (spesialisasi ujung anterior sistem saraf menjadi otak kompleks yang berasosiasi dengan organ-organ indera terspesialisasi) berderajat tinggi dan segmentasi otot-otot tubuh menjadi somit pada satu masa perkembangan (Hademenos, 2005).
Beberapa kelompok vertebrata diantaranya adalah super kelas pisces (Chondrichthyes, Osteichthyes), kelas Amphibia, Reptilia, Aves dan Amphibia (Hademenos, 2005).
H.    Super Kelas Pisces
1.         Kelas Agnatha (tidak mempunyai rahang)
a.       Hewan kelas ini tidak mempunyai rahang.
b.      Pada zaman dahulu klas ini mempunyai banyak jenis anggota. Pada masa kini, anggota jenisnya hanya dua yaitu ”cyclostoma” dan ”lamprey”.
c.       Korda dorsalisnya tetap ada, selama hidupnya. Hanya sebagian saja yang diganti oleh tulang rawan.
d.      Hidup secara parasit pada ikan.
e.       Mulutnya bertindak sebagai batil pengisap untuk melekatkan diri pada tubuhikan, dan memperoleh makanan dengan mengisap jaringan tubuh ikan yang ditumpanginya
2.         Kelas Condrichthyes (ikan bertulang rawan)
a.         Kerangka dari tulang rawan
b.        Celah insang berjumlah 5-7 pasang
c.         Kulit tertutupi oleh dentikel
d.        Fertilisasi internal, individu jantan memiliki clasper. Contoh : ikan hiu dan ikan pari.
3.         Kelas Osteichthyes (ikan bertulang sejati)
a.         Kerangka dari tulang sejati
b.        Celah insang tunggal disetiap sisi dengan tutup insang
c.         Jari-jari lemah pada sirip bersegmen
d.        Fertilisasi eksternal. Contoh : ikan lele, belut, kakap, dan ikan nila
I.       Kelas Amphibia
Ciri-ciri amphibia sebagai berikut:
1.         Dapat hidup di air dan di darat ataupun tempat-tempat yang lembab
2.         Disebut juga hewan yang mempunyai tempat hidup (habitat) di dua alam
3.         Hewan bernafas dengan paru-paru dan kulit.
Telur dan berudu katak hidup di air kemudian setelah dewasa hidup di darat, berudu berbentuk seperti ikan yang bernafas dengan insang dan kulit, setelah masanya tumbuh kaki yang susut oleh kehidupan dan akhirnya ekor menghilang sementara itu insang berangsur-angsur menghilang dan digantikan oleh paru-paru kemudian katak menjadi dewasa.
4.         Jantung beruang tiga yaitu dua serambi dan satu bilik.
5.         Berkembang biak dengan bertelur dan pembuahan sel telur oleh sperma terjadi di luar tubuhnya (fertilisasi eksternal).
Amphibi dapat dibagi menjadi beberapa ordo: ordo Apoda (amphibia tidak berkaki tetapi memiliki eko, contoh: ular), ordo Anura (amphibia tidak berekor tetapi memiliki kaki, contoh: katak dan kodok), dan ordo wodela / candata (amphibia yang berekor dan berkaki, contoh: salamander).
J.      Kelas Reptilia
Ciri-ciri hewan melata adalah sebagai berikut:
1.      Kulit kering bersisik dari zat tanduk karena zat keratin
2.      Bernafas dengan paru-paru
3.      Berdarah dingin (poikiloterm) yakni yang suhu tubuhnya dipengaruhi oleh suhu lingkungan
4.      Umumnya bersifat ovivar (bertelur), contoh kadal, dan vivipar beranak, contohnya ular.
5.      Jantung terdiri dari empat ruang yaitu dua serambi dan dua bilik yang masih belum sempurna.
Reptilia dapat dibagi menjadi beberapa ordo antara lain: ordo Crocodila (contoh: buaya), ordo Sphenedontia (contoh : Tuatara), ordo Squamata (contoh: kadal), dan ordo Testudinata (contoh: kura-kura, penyu dan labi-labi). (Radiopetra, 1996).






BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Alat dan Bahan
Alat yang dipakai dalam praktikum lapangan Keanekaragaman dan Klasifikasi Hewan II yaitu :                                      
1.      Botol jam (4 buah)         11. Kamera
2.      Amplop Insecta              12. Pinset (2 buah)
3.      Peralon                           13. Jaring
4.      Kertas label                    14. Clipboard
5.      Ember                             15. Kardus tertutup
6.      Steroform                       16. Tabel data pengamatan
7.      Jarum pentul                   17. Alat tulis
Sedangkan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam praktikum lapangan Keanekaragaman dan Klasifikasi Hewan II yaitu :
1.      Mika                               7. Alkohol 70% dan 96 %
2.      Kapas                 8. Formalin
3.      Karet                              9. Khlorofom             
4.      Plastik                10. Balsem mentol dragon
5.      Kertas kado                    11. Air laut 125 ml
6.      Kertas manila                

B.     Cara Kerja
1.      Persawahan Piyungan
a. Disiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam praktikum di persawahan Piyungan.
b.  Alat-alat yang dibutuhkan adalah plastik, jaring, amplop Insecta, tabel data pengamatan, clipboard, kamera, alat tulis dan botol jam.
c.   Sebelum praktikan turun ke persawahan, tiap kelompok diberikan tugas yang berbeda-beda oleh asisten.
d. Setelah diberikan arahan oleh asisten, praktikan turun ke persawahan tetap dengan didampingi asisten.
e. Berbagai jenis Insecta, Platyhelmntes, Annelida, Mollusca, Arthropoda, Amfibi dan Reptil yang akan diamati oleh praktikan di sekitar persawahan.
f.   Setelah hewan yang dicari sudah ditemukan, misalnya jenis Insecta untuk bangsa Lepidoptera dan Odonata, hewan tersebut diletakkan didalam amplop Insecta yang sudah disiapkan. Amplop tersebut digunakan untuk mengawetkan bangsa Lepidoptera dan Odonata dan sayapnya tidak boleh patah. Sedangkan untuk bangsa belalang diletakkan pada killing bottle (botol ini bertujuan untuk mematikan belalang agar organnya tidak rusak).
g.   Dicatat hewan yang telah ditemukan di tabel data pengamatan, selain dicatat masing-masing hewan tersebut difoto.
h.   Selanjutnya praktikan membuat insektarium dengan insekta yang telah ditemui.
2.      Pantai Baron
a.     Setelah dari Persawahan Piyungan kemudian dilanjutkan ke Pantai Baron.
b.    Sebelum praktikan turun ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terlebih dahulu dilakukan koordinir   dan arahan / penjelasan dari asisten.
c.     Alat-alat yang perlu dibawa adalah kamera, clipboard, tabel data pengamatan, dan alat tulis.
d.  Di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang akan diamati oleh praktikan yaitu tentang beranekaragaman hewan yang hidup di laut, antara lain Superclass Pisces, Class Molusca dan Class Crustacea sehingga praktikan lebih jelas dan mengerti tentang berbagai macam jenis hewan yang hidup di laut sekitar Pantai Baron.
e.       Setelah dijelaskan oleh asisten, praktikan langsung menuju ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
f.       Di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) semua jenis ikan dan hewan laut yang ada harus dicatat     namanya oleh praktikan, Selain dicatat hewan-hewan tersebut juga difoto satu persatu.
g.      Bila nama ikan / hewan yang dilihat tidak diketahui, maka hal tersebut dapat ditanyakan pada penjual ikan.
3.      Pantai Sundak
a.       Disiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk praktikum di Pantai Sundak diantaranya ember, pinset, peralon, tabel data pengamatan, alat tulis, clipboard, dan kamera.
b.      Hewan yang akan dicari di Pantai Sundak ini yaitu berbagai jenis Echinodermata, Chordata, Cnidaria, Annelida, Porifera, Mollusca dan Crustacea
c.       Setelah itu praktikan turun ke pantai, di tepi pantai peralon diletakkan diatas permukaan air, kemudian dicatat, digambar serta difoto apa saja yang berada didalam plot tersebut. Jika hewan diberi tanda huruf dan jika itu jenis alga diberi tanda angka.
d.      Setelah semua data didapat, data tersebut kemudian ditabulasikan sehingga akan mendapatkan data yang akurat.
4.      Cara Pembuatan Killing Bottle
a.       Disiapkan bahan berupa botol jam, kapas, kertas manila yang sudah dibuat lingkaran dan dilubangi seukuran tutup botol jam
b.      Selanjutnya dibuka botol jamp lalu dimasukkan kapas yang sudah dicelupkan dengan eter dan kloroform ke dalam botol jam.
c.       Setelah itu dimasukkan kertas manila yang sudah dilubangi diatas kapas yang berada didalam botol jamp
d.      Kemudian botol ditutup dan siap digunakan.
5.      Cara Pembuatan Kotak Insectarium dan Insectarium
a.    Disiapkan kardus berserta tutupnya, kertas kado, solatif, gunting, double tip, cutter, kertas mika, jarum pentul dan steroform.
b.    Dibungkus kardus beserta tutupnya dengan menggunakan kertas kado
c.    Lalu diambil kardus beserta tutupnya kemudian pada tutup kardus bagian tengahnya dilubangi membentuk persegi. Diambil plastik mika kemudian tempelkan pada lubang tadi.
d.   Dimasukkan steroform seukuran kardus kedalam kardus yang digunakkan untuk meletakan serangga
e.    Diambil serangga lalu diletakkan diatas steroform yang ada didalam kardus.
f.     Serangga tersebut ditusuk menggunakan jarum pentul pada bagian thorax
g.    Setelah itu tutup kardus yang telah berisi serangga tadi
6.      Cara Pembuatan Awetan Basah
a.       Disiapkan balsem mentol dragon, alkohol 96%, air laut 125 ml.
b.      Dibuat cairan kristal mentol untuk dioleskan atau di rendam sebentar pada preparat yang akan di awetkan
c.       Selanjutnya cairan kristal mentol dibuang dan preparat dicuci sampai bersih.
d.      Setelah itu dibuat larutan pengencer 375 ml. Alkohol 96%  + 125 air laut : semua larutan sampat 500 ml.
e.       Disuntikkan larutan tersebut pada hewan laut.
f.       Lalu preparat atau hewan-hewan laut tersebut direndam dengan larutan di atas. 



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Kemelimpahan Hewan di Persawahan Piyungan
1.      Insecta
Tabel, Diagram Pengamatan, dan Pembahasan
Hari, Tanggal        : Kamis, 15 Mei 2914              Habitat            :Sawah
Lokasi                   : Persawahan Piyungan           Kelompok : 3
Tabel Kemelimpahan Insecta di Persawahan Piyungan
No
Nama Spesies (Ordo)
Jumlah
1
Orthoptera
+++
2
Mantodea
+
3
Hymenoptera
+++
4
Lepidoptera
+++
5
Odonata
+++
6
Hemiptera
+++
7
Diptera
++
Keterangan
 +     : <15
Sedikit
 ++   : 15-30
Banyak
 +++ : >30
Melimpah





 

Pembahasan :
Pada tabel dan diagram kelimpahan Insecta  diatas bahwa ordo Orthoptera (belalang), Mantodea (mantis), Hymenoptera (tawon), Lepidoptera (kupu-kupu), Odonata (capung), Hemiptera (walang sangit), dan Diptera (lalat,nyamuk) memiliki kelimpahan yang sama banyak yaitu ditemukan lebih dari 30 spesies ( yang diberi tanda “+++”) disekitar persawahan Piyungan. Hal ini menunjukkan Habitat sekitar lahan persawahan di Piyungan merupakan habitat yang masih alami selain itu habitat yang sangat cocok untuk Insecta dan telah kita ketahui bahwa pada habitat yang masih alami, keanekaragaman Insectanya tinggi. Selain itu karena dari Insecta sendiri adalah hewan yang mempunyai jumlah (populasi) terbesar di dunia dan kemampuan beradaptasi dan bertahan hidup Insecta sangat baik. Serangga herbivora didominasi dari ordo Hemiptera, Lepidoptera dan Diptera. Hymneoptera sebagai serangga predator. Ekosistem persawahan yang banyak di dominasi oleh tumbuhan dengan berbagai jenis yang merupakan penyedia makanan untuk serangga merupakan alasan utama keberadaan insecta di persawahan Piyungan melimpah. Selain itu cuaca cerah dan sedikit panas sangat cocok untuk kehidupan serangga. Namun karena jumlahnya yang melimpah semua anggota ordo ini ada yang memberi pengaruh baik dan ada yang memberi pengaruh buruk pada areal persawahan. Misalnya pada ordo Orthoptera (belalang) merupakan hama bagi tanaman, karena belalang ini merusak tanaman terutama yang masih muda dengan cara menghisap atau menggerek daun.


2. Platyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida, Mollusca,
Tabel, Diagram Pengamatan, dan Pembahasan
Hari, Tanggal  : Kamis, 3 Mei 2015    Habitat: Sawah
Lokasi             : Persawahan Piyungan
Kelompok       : 3
No
Nama Spesies
Jumlah
1
Pila sp.
+++
2
Achatina fulica
+++
3
Pheretima sp.
+++
4
Bivalvia
++
5
Lumbricus terestis
+++
6
Brotia costula
++

Keterangan
 +     : <15
Sedikit
 ++   : 15-30
Banyak
 +++ : >30
Melimpah







Pembahasan :
Pada tabel dan diagram kelimpahan diatas menunjukan bahwa ditemukan melimpahnya lebih dari 30 (yang diberi tanda “+++”) di areal persawahan Piyungan spesies dari phylum Annelida dan Phylum Mollusca. Spesies dari Annelida yaitu Pheretima sp. Dan spesies dari Mollusca yaitu Pila sp,  Achatina fulica, Brotia costula, dan Lumbricus tererstis. Spesies dari Mollusca lebih banyak ditemukan di area persawahan Piyungan dibandingkan spesies Annelida. Perbedaan jumlah tersebut karena didaerah persawahan Piyungan merupakan tempat yang cocok untuk tumbuh beberapa hewan dari Mollusca yaitu dengan adanya sungai kecil disekitar persawahan yang berisi air dan juga tanah sekitar persawahan cukup lembab maka dari itu dilihat dari habitat Mollusca yang dapat dijumpai ditanah yang lembab, Mollusca mampu beradaptasi dengan baik pada area persawahan. Namun dengan melimpahnya Mollusca di areal persawahan dapat memberikan pengaruh buruk misalnya bekicot (Achatina fulica) dan keong sawah (Pila sp.) merupakan hama dari tanaman. Dimana keong sawah (Pila sp.) akan merusak tanaman sehingga merugikan terutama tanaman yang masih muda sebelum terdapat bakal biji padi.
. Hal ini dikarenakan lokasi tersebut adalah habitat yang tepat untuk Pila sp hidup berupa persawahan, di tanah yang lembab, biasanya dengan membuat celah-celah atau lubang. Makanannya tanaman hijau yang dibasahi dengan ludahnya sehingga jumlah populasinya melimpah, bahkan banyak ditemukan adanya telur Pila sp. yang menempel pada daun padi.
3. Tabel dan Diagram Pengamatan Arthropoda
Tabel, Diagram Pengamatan, dan Pembahasan
Hari, Tanggal          : Mei 2015       Habitat: Sawah
Lokasi                     : Persawahan Piyungan
Kelompok               : 3
No
Nama spesies (Ordo)
Jumlah
1
Kepiting
++
2
Laba-laba
+++




Keterangan
 +     : <15
Sedikit
 ++   : 15-30
Banyak
 +++ : >30
Melimpah





Berdasarkan diagram kelimpahan tingkat filum di Persawahan Piyungan, Arthropoda adalah filum yang memiliki keanekaragaman dan kelimpahan hewan yang tinggi yang ditandai dengan jumlah hewannya yang melimpah dibandingkan filum mollusca, annelida, dan chordata. Hal ini dikarenakan di Persawahan Piyungan merupakan habitat yang sesuai bagi insekta untuk hidup serta didukung oleh ketersediaan sumber makanan dan kemampuan regenerasi insekta yang berlangsung cepat.
Jumlah kepiting yang di dapat banyak namun tidak lebih dari 30 karena tidak semua jenis kepiting hidup di persawahan sehingga penyebaranya tidak terlalu mudah untuk di temukan.Berbeda dengan laba-laa yang berjumlah sangat banyak lebih dari 30 karena persawahan piyungan yang banyak berbagai maam tumbuhan merupakan habitat laba-laba.
4. Amfibi dan Reptil
Tabel, Diagram Pengamatan, dan Pembahasan
Hari, Tanggal  : Mei 2015                   Habitat            : Sawah
Lokasi             : Persawahan Piyungan
Tabel Kemelimpahan Amfibi dan Reptil di Persawahan Piyungan
No
Nama Spesies
Jumlah
2
Rana sp. (katak)
+++
3
Eutropis multifasciata (kadal)
++
4
Bronchocela jubata. (bunglon)
+++
6
Ular Hijau
+++
7
Duttaphrynus melanostictus
++
8
Cosymbotus platyurus
+

Keterangan
 +     : <15
Sedikit
 ++   : 15-30
Banyak
 +++ : >30
Melimpah



 











Pembahasan :
Pada diagram kelimpahan kelas reptil dan amphibi diatas dapat dilihat bahwa jumlah spesies yang melimpah adalah Bronchocela jubata. (bunglon) , Rana sp. (katak) dan Ular Hijau dengan jumlah yang lebih dari 30 (yang diberi tanda “+++”). Spesies yang banyak dengan jumlah 15 sampai 30 (yang diberi tanda”++”) yaitu Eutropis multifasciata (kadal) dan Duttaphrynus melanostictus. Spesies yang sedikit adalah Cosymbotus platyurus dengan jumlah kurang dari 15 (yang diberi tanda “+”). Di persawahan Piyungan lebih banyak ditemukan spesies  dari kelas reptil faktor yang menyebabkan perbedaan jumlah spesies tersebut karena diareal persawahan piyungan kurang meratanya penyebaran air dan air yang mengalir hanya sedikit bahkan hampir mengering atau habis sehingga tempat tersebut kurang cocok untuk amfibi yang pada dasarnya adalah berhabitat ditempat yang basah atau berair dan lembab sehingga kelas reptil yang lebih dapat beradaptasi ditempat yang bersuhu panas karena tubuh reptil memiliki adaptasi morfologi dengan lingkungan panas serta tubuh reptil juga memiliki kulit yang keras tersusun dari bahan tanduk, selain itu juga di karenakan pengamatan di lakukan pada musim kemarau. Kelas reptil ini biasanya memakan serangga, jadi terdapat kemungkinan Eutropis multifasciata ( kadal ) juga memakan serangga yang bersifat merugikan bagi tanaman.

B. Kemelimpahan Hewan di Pantai Baron
1.      Pisces
Tabel, Diagram Pengamatan, dan Pembahasan
Hari, Tanggal  : Kamis, 15 Mei 2014              Habitat : Laut
Lokasi             : Pantai Baron
Tabel Kemelimpahan Pisces di Pantai Baron
No
Nama Spesies
Jumlah
1
Ikan Kakap Putih
+
2
Ikan banyar
+
3
Ikan mubara
+++
4
Ikan bawal putih
++
5
Ikan panjul
+
6
Ikan hiu
+
7
Ikan bawal dorong
++
8
Ikan tongkol
+++
9
Ikan tenggiri
+
10
Ikan bawal
++
11
Ikan laut
+++
12
Ikan lele laut
+++
13
Ikan layur
+++
14
Ikan cakalang
+++
15
Ikan tongkol
++
16
Ikan salem
++
17
Ikan tuna
++
18
Ikan koras
+
19
Ikan toras
+
20
Ikan kembung
++
21
Ikan batu
+
23
Ikan kue
++
24
Ikan sidat
+
25
Ikan kerapu
+
26
Ikan sebelah
++
27
Ikan gabus
+
28
Ikan tiga wajah
+++
29
Ikan kepala jambal
++
30
Ikan cucut
+
31
Ikan pacung tambel
+
32
Ikan kakap pasir
++
33
Ikan bawal hitam
++

Keterangan
 +     : <15
Sedikit
 ++   : 15-30
Banyak
 +++ : >30
Melimpah

 

Pembahasan :
Berdasarkan tabel dan diagram kemelimpahan superkelas Pisces yang di peroleh di Pantai Baron yang di ambil di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) banyak ditemukan berbagai spesies ikan. Spesies ikan yang melimpah dengan jumlah lebih dari 30 (diberi tanda “+++”) diantaranya ikan mubara,ikan tongkol,ikan laut,ikan lele laut,ikan layur,ikan cakalang,dan ikan tiga wajah. Spesies-spesies tersebut melimpah di TPI karena memang di daerah Pantai Baron ini sangat melimpah untuk anggota superclass pisces dengan berbagai jenis spesiesnya. Karena siklus hidupnya yang sangat cepat dan mudah dalam memperoleh makanan di perairan laut. Hal ini disebabkan karena ikan laut memiliki habitat di air laut. Selain itu, ikan laut memiliki keanekaragaman yang sangat besar mulai dari ikan yang bertulang rawan sampai ikan yang bertulang sejati.
Banyaknya berbagai spesies ikan yang ditemukan karena memang di daerah Pantai Baron ini sangat melimpah untuk anggota superkelas Pisces. Karena siklus hidupnya yang sangat cepat dan mudah dalam memperoleh makanan di perairan laut. Hal ini disebabkan karena ikan laut memiliki habitat di air laut. Selain itu, ikan laut memiliki keanekaragaman yang sangat besar mulai dari ikan yang bertulang rawan sampai ikan yang bertulang sejati. Melimpahnya ikan khususnya ikan kakap karena biasanya ikan ini menghuni perairan antara 10 – 60 meter kedalaman laut dan dapat ditemui diseluruh perairan Indonesia. Tempat yang menjadi favorit untuk persembunyiannya adalah batu karang. Bahkan ditempat itu pula ikan kakap mampu berkembang biak dengan banyak dan mencari makan sehari-hari. Sedangkan sedikitnya ditemukan ikan khususnya ikan pari di pantai Baron karena ikan pari mempunyai variasi habitat yang sangat luas dengan pola sebaran yang unik. Sebaran ikan pari adalah perairan pantai dan terkadang masuk ke daerah pasang surut dan laut dalam sehingga ikan pari jarang ditemukan.

3. Crustacea
Tabel, Diagram Pengamatan, dan Pembahasan
Hari, Tanggal  : Mei 2015       Habitat            : Laut
Lokasi             : Pantai Baron
Tabel Kemelimpahan Crustacea di Pantai Baron
No
Nama Spesies
Jumlah
1
Udang*
+++
2
Penaeus sp.
++
3
Lobster mutiara*
++
4
Procambarus alleni
+++
5
Nephropidae
++
6
Kepiting*
++
7
Undur-undur*
+
8
Portunus pelagicus
+++

Keterangan
 +     : <15
Sedikit
 ++   : 15-30
Banyak
 +++ : >30
Melimpah


Pembahasan :
Pada tabel dan diagram diatas spesies Crustacea yang di peroleh di Pantai Baron yang di ambil di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yaitu Pada tabel dan diagram diatas spesies Crustacea yang di peroleh di Pantai Baron yang di ambil di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yaitu udang, Procambarus alleni dan Portunus pelagicus ditemukan dalam jumlah yang melimpah yaitu dengan jumlah lebih dari 30 (diberi tanda “+++”). Sedangkan   Penaeus sp. , Lobster mutiara*, Nephropidae , Kepiting*ditemukan dalam level banyak yaitu berkisar 15 sampai 30 (diberi tanda “++”). Melimpahnya lobster dan jenis udang di pantai Baron karena habitan mereka di bebatuan dan karang laut yang memang banyak di pantai Baron.
4.      Mollusca
Tabel, Diagram Pengamatan, dan Pembahasan
Hari, Tanggal  : 15 Mei 2015              Habitat            : Laut
Lokasi             : Pantai Baron
Tabel Kemelimpahan Molusca di Pantai Baron
No
Nama Spesies
Jumlah
1
Erang hijau*
+++
2
Cumi-cumi*
+++
3
Sotong *
+++


No
Phylum
Nama Spesies
Jumlah
1
Porifera
Spongia sp.
+++
2
Clathria sp.
++
3
Cnidaria
Favites sp.
+++
4
Meandrina sp.
+++
5
Platyhelminthes
Cacing laut*
+
6
Annelida
Nereis sp.
+++
7
Echinodermata
Ophiocoma sp.
+++
8
Fchinus sp.
+++
9
Holothuria sp.
++
10
Mollusca
Turbo sp.
+++
11
Conus sp.
+++
12
Cypraea sp.
+++
13
Kerang*(Bivalvia)
+++
14
Kerang Bambu*
+
15
Kelinci Laut*
+
16
Murex sp.
+
17
Chiton sp.
+
18
Acropora sp.
+++
19
Arthropoda
Kepiting*
+++
20
Undur-undur*
++
21
Lobster*
++
22
Penaeus sp.
+++


 


Pembahasan :
Pada tabel dan diagram diatas spesies dari Mollusca yang di peroleh di Pantai Baron yang di ambil di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) ditemukan cumi-cumi dan sotong dengan jumlah yang melimpah yaitu lebih dari 30 kerang hijau,sotong dan cumi-cumi.
Untuk spesies dari filum mollusca yaitu cumi-cumi,  kerang dan sotong ditemukan dalam jumlah melimpah yaitu lebih dari 30. Setelah hasil ini dianalisis, ditemukan bahwa filum Arthropoda memiliki kisaran sebesar 17%, filum Mollusca  memiliki kisaran 7% dan Chordata sebesar 76%. Filum Chordata menempati tingkat kelimpahan yang besar, di mana  habitat sebenarnya dari filum ini yaitu di perairan laut. Alhasil filum Chordata ditemukan lebih melimpah daripada filum lainnya

C.    Pantai Sepanjang
Tabel, Diagram Pengamatan, dan Pembahasan
Hari, Tanggal  :  Mei 2015      Habitat            : Laut
Lokasi             : Pantai Sepanjang
Tabel Kemelimpahan Hewan Dari Berbagai Phylum di Pantai Sepanjang

Keterangan
 +     : <15
Sedikit
 ++   : 15-30
Banyak
 +++ : >30
Melimpah

Pada tabel dan diagram kemelimpahan di pantai Sundak ditemukan ada 7 phylum yaitu:  Echinodermata sebanyak 4 spesies, Chordata sebanyak 1 spesies, Cnidaria sebanyak 4 spesies, Annelida sebanyak 1 spesies, Porifera sebanyak 1 spesies, Mollusca sebanyak 7 spesies dan Crustacea sebanyak 2 spesies. Terlihat bahwa spesies yang paling banyak ditemukan adalah phylum Mollusca ada 7 spesies. Pada phylum Mollusca ada beberapa spesies yang  mampu hidup di laut yang di temukan melimpah dalam jumlah lebih dari 30 (diberi tanda”+++”) seperti : Cypraea sp, Kerang, Turbo sp, dan Conus sp. Dan ditemukan dalam jumlah banyak yaitu 15 sampai 30 (diberi tanda “++”) seperti Corbicula sp. (kerang mutiara) serta dalam jumlah sedikit yaitu 1 sampai 15 (diberi tanda “+”) seperti Trochus sp. dan Chiton sp. Sedangkan spesies yang paling sedikit adalah phylum Porifera hanya 1 spesies dengan jumlah kurang dari 15 yaitu Spongia sp. Porifera sedikit ditemukan karena habitatnya melekat pada dasar perairan sehingga saat pengamatan tidak banyak ditemukan, dikarenakan pengamatan hanya dilakukan dipinggiran pantai. Sedangkan phylum Mollusca ditemukan paling banyak  karena Mollusca dapat ditemukan dilingkungan yang berbeda.
                                                                         BAB V
                                                                 KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan di areal persawahan Piyungan, Pantai Baron, dan Pantai Sundak dapat disimpulkan bahwa :
1.      Di persawahan piyungan terdapat hewan kelas insekta yang sangat melimpah di bandingkan dengan kelompok hewan lainnya. Hal tersebut di sebabkan karena dari insekta sendiri adalah hewan yang mempunyai jumlah (populasi) terbesar di dunia. Persawahan piyungan merupakan habitat yang sangat cocok untuk serangga karena mampu untuk bearadaptasi dan kemampuan untuk hidup dengan baik.
2.   Dipantai baron terdapat hewan yang melimpah yaitu pada super kelas pisces. Hal ini di karenakan air laut memang merupakan habitat dari ikan itu sendiri.
3.     Di Pantai Sepanjang terdapat keanekaragaman dari phylum Echinodermata, Chordata, Cnidaria, Annelida, Porifera, Mollusca dan Crustacea.
4.     Suatu ekosistem terdapat suatu keanekaragaman. Melimpahnya suatu keanekargaman tergantung dari ketersediaan makanan, kondisi ketahanan lingkungan makhluk hidup di habitatnya.








                                                            Daftar Pustaka
Abdurahman, Deden. 2007. Biologi Kelompok Pertanian. Bandung : PT Grafindo Media Pratama.
     Brotowidjoyo, M. D. 1993.Zoologi Dasar. Cetakan II. Jakarta: Erlangga
Campbell,N.A.,J.B.Reece, & L.G. Mitchell. 2005. Biologi. Edisi ke-5. Terj.dari Biology.5th ed. oleh Manalu, W. Jakarta: Erlangga.
Erya. 2011.” Makalah Entomologi (Ordo Mantodea) New” ( http: //ml. scribd.com/      erya_mathias/d/91188357-Makalah-Entomologi - Ordo-
Hademenos, George dan Gerge H. Friend. 2005. Biologi Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
Jasin, M. 1992. Zoologi Invertebrata untuk Perguruan Tinggi. Surabaya . Sinar Wijaya
Martomijoyo, Russamsi.dkk.1990. Biologi Smu. Bandung. Grafindo media pratama.
Radiopoetra.1996. Zoologi. Erlangga. Jakarta
Romimohtarto, Kasijan. 2005. Biologi Laut : Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta: Djambatan Anggota IKPI.

















Comments

Popular posts from this blog

Review Skin Care Navagreen dan LBC Jogja

Hai teman-teman semuanya, this is my first writing ^_^ Semoga bermanfaat yaa.. Cus langsung aja ya... Di tahun yang udah 2017 ini siapa sih yang tidak mau punya kemajuan dalam dirinya, salah satu nya adalah FASHION terutama kulit wajah hehehe. Apalagi yang sudah menginjak umur 17 tahun, sekarang sudah banyak yang ingin melakukan perawatan kulit yaa. Gambar 1. Wajah sebelum tersentuh skin care Pengalaman aku pertama kali ingin terjun ke dunia perawatan kulit itu semenjak kuliah semester 3 dan memakai semua produk LA TULIP mulai dari toner, milk cleanser, bedak, krim pagi, siang (sunblock, krim malam, duuh..pokoknya lengkap bangeeett... dan berhubung muka aku jenis muka yang normal aja (bukan berjerawat) so,tidak ada efek yang mengerikan di muka aku sendiri dan pemakaian pake produk la tulip pun sampai hampir 1 tahun. Dan jeng..jengjeeengg.... NIHIL!! Muka ku ga ada perubahan apapun, tambah hitam enggak dan tambah putih juga enggak tapi aku tetep bertahan hahah (s...

Pengalaman PKL/Kerja Praktek di LIPI (Part 1)

Assalamualaikum, selamat siang teman2.  Kali ini aku mau sharing tentang pengalaman aku PKL di LIPI, Cibinong, Bogor. Jadi kenapa aku milih Pkl jauh-jauh dari kampus aku di jogja karena aku suka cari pengalaman ditempat yang jauh dari area aku tinggal makanya aku pilih Bogor yang juga karena disana ada saudara. Aku basic nya dari biologi jadi aku pilih bidang yang sesuai bidang ku. Di LIPI ada banyak banget bidang sesuai ilmunya, misalnya : Widyasatwaloka (Zoologi) Botani Mikrobiologi Bioteknologi Biomaterial Limnologi Oseanografi Nah sebener nya masih banyak lagi tapi ya setahu aku kira2 yang banyak diminati buat PKL ya bidang-bidang itu. Kalo aku kemaren pilih bidang widyasatwaloka karena emang aku suka belajar yang berbau hewan dari pada tumbuhan. Disini sekilas aku bakal jelasin step2 aku daftar PKL diLipi. Jadi pada bulan September aku banyak cari info baik di internet maupun dari kakak tingkat yang pernah PKL disana, nah berhubung kaka tingkat ku tahu...